Berawal dari inisiatif bikin video profil di asrama Soposurung hingga kini menjadi Video Editor & Motion Designer di OCBC Indonesia, Alvito Purba (Yasop 28) membuktikan bahwa minat kreatif bisa menjadi profesi yang berdampak. Simak kisahnya menembus industri kreatif, menangani animasi 4D dan project Marvel Disney x OCBC, hingga karyanya mewarnai layar Videotron di Sarinah, Bundaran HI, dan kota-kota besar di Indonesia!

Jika berbicara tentang Yasop dengan kehidupan para siswa di dalamnya, maka yang umumnya terlintas bagi kita adalah membayangkan berbagai proses pembelajaran intelektual dan juga latihan ketangguhan fisik setiap waktunya. Secara kolektif jika memproyeksikan, maka berbagai proses itu semua akan sampai pada kesimpulan yang menciptakan stigma “masuk yasop kalau udah kerja nanti di kedinasan atau pemerintahan, teknisi, pekerja tambang, akademisi, maupun praktisi hukum.”
Dalam cerita kali ini penulis akan membawamu pada kisah menarik dan mengesankan salah satu Alumni angkatan 28 (Salvation), bernama Alvito Purba yang saat ini merupakan Video Editor dan Motion Designer di OCBC Indonesia. Dari hasil obrolan interaktif dengan tokoh utama dalam artikel ini, penulis menuangkan kisah dan cerita menarik dan inspiratif sebagai perjalanannya sebagai Alumni yang berkarya di dunia industri kreatif.
Bermula dari ketertarikan pada perfilman dan desain grafis sejak SMA, beliau mengembangkan minatnya melalui berbagai pengalaman, tantangan, dan kesempatan. Kini, ia berkarya di bidang konten dan advertising di salah satu perusahaan bank terkemuka di asia pasifik, menghadirkan visual yang menjangkau publik melalui videotron dan billboard di berbagai kota di Indonesia.
Bagi Alvito, ketertarikan pada dunia kreatif sudah tumbuh sejak SMP, ketika ia mulai mengeksplorasi desain visual, mencoba membuat objek tiga dimensi, hingga mengedit video untuk YouTube. Namun, saat duduk di bangku SMA, ketertarikan itu menemukan ruang untuk berkembang lebih jauh.
Salah satu titik baliknya bermula pada tahun 2018, dari munculnya ide dari video profil asrama Yasop saat itu yang menurutnya sudah terasa kuno. Ia kemudian berinisiatif mengajukan pembuatan video profil baru kepada Bapak Rahmat J. Sinaga, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Asrama Yasop. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk mengeksplorasi ide dan terlibat dalam proses produksi, mulai dari pengembangan konsep hingga penyuntingan video. Hasilnya pun mendapat respons positif.
Pembuatan video profil tersebut menjadi titik awal bagi Alvito untuk bergabung dalam dunia editing dan videografi. Yasop menjadi ruang baginya untuk mencoba, bereksperimen, dan belajar. Hasil video profil yang memuaskan membuat Ia dipercayakan untuk menghandle project project video lainnya di lingkungan asrama, mulai dari video SPMB Yasop, konten natal yasop, acara hari Kemerdekaan 17 agustus, hingga kegiatan Olimpiade Yasop (Yasop Search Project). Selain pembuatan video-video internal, Ia juga mulai mencoba untuk mengerjakan proyek film yang lebih menantang dengan mengikuti Lomba film. Meskipun di perlombaan film perdana yang ia ikuti tidak memenangkan juara, namun ketika ia mencoba mengikuti lomba untuk kedua kalinya, ia pun berhasil meraih juara kedua dalam Lomba Film yang diselenggarakan oleh DEL.
Youtube Senat Yasop : tempat hasil karya video Alvito selama menjadi siswa di Yasop https://www.youtube.com/@SenatAsramaYasop/
Link profil yasop tahun 2019 garapan Alvito: https://youtu.be/CKZL9YcNRo8?si=I99OTa_rmGQkl8aE
Dukungan dari lingkungan asrama turut memberinya keberanian untuk mengambil inisiatif, bahkan ketika tidak ada tuntutan khusus untuk menghasilkan karya. Ia belajar bahwa kesempatan tidak selalu datang dengan sendirinya; terkadang, kesempatan perlu dicari dan dibuka melalui keberanian untuk memulai. Dari pengalaman tersebut, Alvito mulai melihat bahwa sesuatu yang awalnya hanya ia sukai ternyata memiliki potensi untuk dikembangkan lebih serius. Pengalaman tersebut memberinya ruang untuk mencoba, termasuk ketika hasilnya belum sesuai keinginan. Dukungan lingkungan asrama dan Salvation turut membuka kesempatan baginya untuk mengembangkan kemampuan melalui berbagai kegiatan.
Ada kisah yang cukup menggelitik ketika penulis melontarkan suatu pertanyaan di sepanjang perbincangan. “Gimana respon dari orang tua ketika abang memutuskan untuk menyemplung di dunia perfilman?”
dan jawaban beliau adalah “Sebenarnya mereka kurang setuju, hahahaha”
Dulu sewaktu duduk di bangku SMA, awalnya Alvito berencana untuk mengambil Teknik Informatika sebagai target tujuannya. Perfilman merupakan jalan yang belum sepenuhnya ia ketahui pada saat itu. Namun semakin dia berkecimpung dengan hal-hal yang berkaitan dengan video dan editing, akhirnya Alvito memutuskan untuk mengambil jurusan Televisi dan Film di Universitas Padjajaran. Ia pun mengungkapkan minat tersebut kepada kedua orangtuanya.
“Mereka engga setuju, soalnya prospeknya engga menjanjikan. Gimanalah tipikal orangtua batak, kalau dengar kerja di dunia kreatif kurang meyakinkan. Aku bahkan sampai bikin power point buat ngejelasin tentang pilihanku, tapi mereka tetap masih kurang sreg.”
Setelah persuasi yang panjang, pada akhirnya ia mendapat kesempatan untuk mencoba, meskipun dengan syarat tetap diminta untuk mencoba Informatika sebagai alternatif. Dan pada akhirnya, ketika UTBK sudah dilakukan, Alvito diterima di jurusan yang dia inginkan, yakni Program Studi Televisi dan Film (TVF) UNPAD. Dukungan orang tuanya juga tumbuh secara bertahap, seiring mereka melihat bagaimana Alvito menjalani pilihan tersebut dan mengembangkan dirinya selama di bangku perkuliahan.
Memasuki bangku kuliah, ketertarikannya pada dunia visual bertemu dengan kesempatan yang lebih luas. Alvito bergabung dengan divisi Media Informasi atau Medinfo BEM, tempat ia kembali mengerjakan video profil, kali ini dalam konteks organisasi dan kehidupan kampus. Pengalaman yang sebelumnya ia bangun di SMA menjadi bekal untuk menangani produksi dengan kebutuhan yang lebih kompleks.
Tahun 2021 menjadi salah satu periode paling padat baginya. Ia terlibat dalam Padjadjaran Education Festival, kegiatan himpunan mahasiswa, hingga rangkaian orientasi mahasiswa baru. Semangat untuk berkontribusi membuatnya mengambil banyak tanggung jawab sekaligus. Namun, keinginan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan juga membawanya pada satu pelajaran penting: tidak semua hal dapat dikerjakan bersamaan tanpa pengelolaan waktu yang baik.
“Jujur mungkin karna masih excited di awal semester, aku join terlalu banyak kepanitiaan dan organisasi sampai di titik aku sendiri keteteran dan pada akhirnya engga semuanya bisa aku maksimalin.”
Dari pengalaman itu, Alvito mulai memahami bahwa kemampuan kreatif saja tidak cukup. Ia perlu belajar mengatur prioritas, menjaga komitmen, dan mengenali batas kemampuannya sendiri.
Pengalaman organisasinya berlanjut pada 2022 ketika ia kembali terlibat dalam BEM dan dipercaya memimpin kepanitiaan orientasi mahasiswa baru, Prabu. Peran tersebut mempertemukannya dengan tanggung jawab yang berbeda. Ia tidak lagi hanya memikirkan bagaimana menghasilkan konten yang menarik, tetapi juga bagaimana mengomunikasikan arahan, meninjau pekerjaan anggota tim, mengelola administrasi, dan memastikan pekerjaan berjalan sesuai kebutuhan.
Ia juga sempat menjadi relawan di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), sebelum pada 2023 dipercaya menjadi Head of Creative Media untuk MONTAJ, sebuah event perfilman di Universitas Padjadjaran. Di sana, pengalaman kreatifnya semakin terasah melalui pengelolaan konten dan kebutuhan komunikasi sebuah festival. Upaya tersebut turut menghasilkan peningkatan interaksi dan jangkauan konten hingga puluhan ribu penayangan. Sejumlah tiket film juga dilaporkan terjual habis, sementara hasil pekerjaannya mendapat respons positif dari pimpinan festival.
Rangkaian pengalaman itu memperlihatkan bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Organisasi, kepanitiaan, dan kegiatan sukarela menjadi tempat bagi Alvito untuk menguji keterampilannya, mengenali cara bekerja bersama orang lain, dan memahami bahwa sebuah karya sering kali merupakan hasil kolaborasi.
Kemudian pada tahun 2023, Alvito menyelesaikan pendidikan sarjana dengan membawa gelar S.I.Kom. sebagai salah satu lulusan tercepat di angkatannya.
Setelah menyelesaikan studi sarjana, Alvito menghadapi babak baru yang tidak kalah menantang. Meskipun dengan dunia perkuliahan yang sangat gemilang, nyatanya pengalaman dan portofolio yang telah dikumpulkannya tidak serta-merta langsung membuat perjalanan mencari pekerjaan menjadi mudah. Ia sempat melalui masa tanpa pekerjaan sebelum pada akhirnya memperoleh kesempatan bekerja dalam proyek berbasis kontrak selama dua bulan di PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk.
Di sana, ia membantu mengerjakan video perayaan ulang tahun perusahaan. Prosesnya melibatkan diskusi ide, pengembangan cerita, dan penyesuaian konten dengan kebutuhan perusahaan. Pengalaman singkat tersebut menjadi perkenalan awal dengan lingkungan kerja korporasi, tempat kreativitas harus berjalan beriringan dengan tujuan komunikasi dan kebutuhan institusi. Setelah 2 bulan, kontrak itu berakhir. dan Alvito kembali menghadapi masa pencarian pekerjaan.
Kesempatan berikutnya kemudian datang melalui posisi content creator untuk Samsung dengan kontrak satu tahun. Dari pengalaman ini, ia mulai memahami bahwa membuat konten untuk kebutuhan profesional tidak hanya bergantung pada selera visual. Ia juga perlu mempelajari karakter audiens, cara kerja platform, serta bagaimana konten dapat menjangkau orang yang tepat.
Bekal tersebut kemudian membawanya ke OCBC, salah satu perusahaan perbankan Asia Pasifik terkemuka di Indonesia sebagai intern selama empat bulan.
“Jujur setelah masuk ke dunia korporat, ada culture shocknya, karna ketika kita bekerja kita punya boundaries tersendiri dan masing-masing orang punya tupoksinya sendiri.”
Peralihan ke industri perbankan menghadirkan proses adaptasi tersendiri. Ritme kerja, alur persetujuan, koordinasi antardivisi, dan standar komunikasi korporasi menuntut cara kerja yang berbeda dari proyek-proyek kreatif yang sebelumnya ia jalani.
Salah satu pengalaman yang cukup menantang adalah ketika ia dipercaya mengerjakan konten Tahun Baru Imlek dan materi rekap acara yang akan ditampilkan kepada jajaran BOD. Karyanya harus melalui peninjauan dari para senior, sehingga ia belajar menghadapi masukan, memperhatikan detail, dan memastikan pesan yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Dari situ, Alvito memahami bahwa kreativitas di lingkungan korporasi bukan semata-mata tentang menghasilkan sesuatu yang menarik. Ia juga perlu mampu menjelaskan gagasan, berkoordinasi dengan pihak lain, dan menerjemahkan kebutuhan bisnis menjadi komunikasi visual yang tepat. Namun pengalaman tersebut menghasilkan sesuatu yang luar biasa pula. Dengan semangat keingintahuan dan keberanian untuk mencoba, ia kembali dipercaya untuk melanjutkan pekerjaan sebagai karyawan setelah masa magangnya berakhir.
Memasuki kuartal ketiga 2025, Alvito menghadapi tantangan baru. Hal ini dimulai ketika ia dipindahkan ke divisi yang sebelumnya belum pernah ia lakukan, yakni divisi yang menghandle animasi 4D dan materi iklan untuk layar LED di berbagai kota di seluruh Pulau Jawa. Kepindahannya di divisi terkait menjadi tantangan sendiri bagi Alvito yang sebelumnya tidak memiliki basis yang kuat pada dunia animasi. Budaya kerja dan proses produksi konten yang cukup berbeda juga menjadi tantangan tersendiri. Ia dituntut untuk beradaptasi dengan format visual baru, bekerja lebih cepat, dan tetap responsif terhadap kebutuhan proyek.
Kendati demikian, perubahan-perubahan yang terjadi justru menumbuhkan rasa keingintahuan dan membangkitkan semangatnya terhadap tantangan baru di dunia industri terkait.
Salah satu pengalaman yang berkesan adalah keterlibatannya dalam kolaborasi Marvel Disney x OCBC. Melalui proyek ini, ia belajar bahwa menjadi kreatif tidak hanya tentang menghasilkan visual yang menarik, tetapi juga memahami tujuan bisnis di baliknya. Ia mulai melihat sebuah karya dari berbagai sudut pandang, mulai dari relevansinya bagi audiens hingga potensi nilai bisnis yang dapat dihasilkan. Pengalaman tersebut mengajarkannya untuk lebih bijak dalam menyampaikan ide, bersikap dalam diskusi, dan menyeimbangkan idealisme kreatif dengan kebutuhan perusahaan. Kampanye tersebut pun mencatat hasil yang menggembirakan, dengan kartu debit yang dipromosikan dilaporkan terjual habis dalam tiga hari.
“Sewaktu mulai masuk di divisi ini aku belajar hal baru. Aku disini belajar gimana menjadi orang kreatif yang lebih bijak menyatukan otak bisnis dan otak kreatif. Dengan artian,aku belajar gimana cara mempertimbangkan pekerjaanku dari beberapa aspek juga, seperti bisnis seperti keuntungan, bukan perkara “yang penting kreatif” aja.”
Bagi Alvito, kepuasan tersendiri muncul ketika karya yang sebelumnya hanya berupa ide, konsep, dan rangkaian proses produksi akhirnya tampil di ruang publik. Melihat hasil pekerjaannya hadir di tempat-tempat seperti Sarinah, kawasan Bundaran HI, Braga di Bandung, hingga Mal-mal besar di Surabaya, dan berbagai lokasi lainnya memberinya perspektif baru tentang perjalanan yang telah ia lalui.
Jika kita merewind kembali, ada jarak yang cukup panjang antara kisah seorang siswa yang mengusulkan pembuatan video profil asrama dengan seorang profesional yang mengerjakan materi advertising untuk ditampilkan di layar-layar besar kota. Jarak itu tidak ditempuh melalui satu keputusan besar, melainkan melalui serangkaian kesempatan kecil, keberanian mencoba, pengalaman yang tidak selalu berhasil, dan kesediaan untuk terus belajar.
Jika ada satu hal yang dapat ditarik dari perjalanan Alvito sebagai tokoh utama dalam cerita ini, mungkin itu bukan tentang keharusan menemukan passion sejak dini. Tidak semua orang langsung mengetahui apa yang ingin dilakukan dalam hidupnya. Bahkan, ketika minat sudah mulai terlihat, jalan untuk menjadikannya sebagai profesi tetap membutuhkan proses, ketekunan, dan keberanian menghadapi ketidakpastian.
Namun, kunci hal awal yang ia temukan adalah rasa ingin tahu dan berani mencobanya sebagai titik awal. Namun, pengalaman di sekolah, perkuliahan, organisasi, hingga dunia kerja yang membuat ketertarikan itu berkembang menjadi keterampilan. Ada kegagalan yang mengajarkannya untuk mencoba kembali, tanggung jawab yang memaksanya belajar mengatur diri, serta kesempatan yang mempertemukannya dengan cara kerja dan tantangan baru.
Ketika penulis bertanya kepada Alvito, “Adakah pesan yang ingin disampaikan?”
Jawaban beliau juga sederhana,
“Jangan takut mencoba sesuatu yang menarik perhatian kita, dan jangan takut dengan tantangan maupun gagal”.
Tantangan dan kegagalan bukan selalu tanda bahwa kita berada di jalan yang salah. Terkadang, keduanya justru menjadi bagian dari proses untuk mengenali kemampuan dan menemukan cara untuk berkembang.
Mungkin menemukan sesuatu yang kita sukai memang masih baru permulaan. Yang membuatnya berarti adalah kesediaan untuk terus mengasahnya, mengambil kesempatan ketika datang, dan menciptakan peluang ketika kesempatan itu belum terlihat. Hingga pada suatu hari, sesuatu yang dahulu dimulai dari rasa penasaran dapat menemukan tempatnya di dunia yang lebih luas.
Climb ev'ry mountain,
Search high and low,
Follow ev'ry byway,
Every path you know.
Climb ev'ry mountain,
Ford ev'ry stream,
Follow ev'ry rainbow,
'Til you find your dream.”
Penulis: Lampita Pangaribuan (Ingenium XXIX)