ITB21 Oktober 2026Michael Sihotang9 menit baca

Overthinker yang Tetap Melangkah: Perjalanan Michael Sihotang dari MAPRES STI-ITB ke Bank Indonesia

Mengaku sebagai seorang overthinker yang sering meragukan kemampuannya sendiri, Michael Sihotang (Yasop 29) membagikan kisah jujurnya dari bangku STEI ITB, perjalanan karier sebagai Product Manager, hingga akhirnya lolos PCPM Bank Indonesia 2025. Sebuah pengingat bahwa rasa ragu bisa diatasi dengan berani mengambil satu langkah berikutnya!

Michael Sihotang

Menjelang pengumuman penempatan kerja di Bank Indonesia, kepala Michael Sihotang sudah berputar jauh sebelum nama departemennya benar-benar keluar.

"Teman seangkatanku mulai diumumkan; ada yang ditempatkan di pusat, tetapi ada juga yang di daerah seperti Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. Ia pun mulai berpikir, 'Kalau seandainya aku ditempatkan di daerah, kontribusi apa ya yang bisa kulakukan sesuai latar belakangku?'"

Padahal, kalau melihat rekam jejaknya, kekhawatiran semacam itu terasa tidak masuk akal. Michael adalah Mahasiswa Berprestasi 1 STI ITB 2024, Product Manager full-time sebelum ia lulus kuliah, dan kini Pendidikan Calon Pegawai Asisten Manajer (PCPM) di Bank Indonesia. Dari luar, semua terlihat seperti jalan yang mulus. Namun saat ditanya apa yang sebenarnya terjadi di kepalanya sepanjang perjalanan itu, Michael, alumni Yasop angkatan 29 (Ingenium), punya satu pengakuan: ia adalah seorang overthinker, dan hampir tidak ada satu keputusan besar dalam hidupnya yang lolos dari putaran pikiran "bisa gak ya, bisa gak ya, bisa gak ya" itu.

Awal yang Tidak Lurus: Dari Cita-Cita FK ke STI

Jauh sebelum mengenal dunia teknologi, cita-cita awal Michael justru mengarah ke Fakultas Kedokteran. Keinginan itu bertahan hingga masa Try Out dan awal pendaftaran SNMPTN. Namun, masukan dari keluarga soal panjangnya durasi pendidikan kedokteran membuatnya berhenti sejenak dan mengevaluasi ulang apa yang sebenarnya ia sukai.

"Karena aku ngerasa suka semuanya, akhirnya aku coba lihat lagi, dan di antara pilihan-pilihan teknik, aku ngerasa paling tertarik ke elektro," kenang Michael.

Keputusan itu pun belum final. Hingga akhir semester 1 Tahap Persiapan Bersama (TPB), ia masih condong ke elektro. Titik baliknya datang di semester 2, ketika ia mengambil mata kuliah Pengantar Analisis Rangkaian dan Dasar Pemrograman secara bersamaan.

"Waktu itu aku merasa kurang bisa mengikuti analisis rangkaian, lebih bagus dasar pemrograman," ujarnya.

Dari situ, ia mempelajari lebih jauh mata kuliah dan prospek karir di bidang informatika, hingga akhirnya memantapkan pilihan ke jurusan Sistem dan Teknologi Informasi (STI) di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, meski saat itu ia sendiri belum sepenuhnya memahami akan menjadi seperti apa jurusan yang dipilihnya ini di masa depan.

Michael awal masuk ITB saat COVID-19

Kalah Berkali-kali Sebelum Tahu Mau Jadi Apa

Masuk semester 3 dan 4, Michael mulai mencari sosok role model, orang-orang yang sudah lebih dulu tahu mau menjadi apa di STI. Dari situ ia menyimpulkan dua hal yang menurutnya penting dipersiapkan sejak dini: keterlibatan di organisasi atau kepanitiaan untuk membangun jaringan, dan keikutsertaan di berbagai lomba sebagai sarana eksplorasi diri.

Masalahnya, di fase eksplorasi ini, ia kalah di semua lomba yang diikutinya. Tidak ada satu pun yang berhasil ia menangkan selama semester 3 dan 4. Bersamaan dengan itu, ia melihat teman-teman seangkatannya sudah lebih dulu berprestasi, menang lomba hackathon, menang lomba bisnis, dan membangun reputasi yang jauh lebih cepat dari dirinya.

"Aku stres semester 3, semester 4. Ini beneran nggak pernah menang kah? Emang aku nggak layak kah? Apa memang bukan jalanku kah?"

Michael mengingat kembali periode itu sebagai salah satu fase yang membuatnya ragu, bahkan sampai menurunkan niatnya sendiri untuk mengejar gelar Mahasiswa Berprestasi (Mapres), karena merasa sudah tertinggal jauh dari teman-teman seangkatan.

Dari Hustler di Lomba Hackathon, Hingga Mapres 1 STI ITB 2024

Meski kalah beruntun, Michael tidak berhenti mencoba. Lomba pertamanya, BIST League (Business IT Case Competition) yang diselenggarakan STI ITB, menjadi pengalaman berkesan meski ia kalah. Di sana ia belajar banyak dari orang-orang yang sudah terbiasa mengikuti lomba, tentang cara menyusun strategi dan presentasi yang jauh berbeda dari presentasi di kelas. Ia juga mulai memahami bahwa sebuah sistem informasi harus bisa mendukung kebutuhan bisnis, bukan sekadar berjalan secara teknis.

Titik yang paling membuatnya senang datang di semester 5, saat ia mengikuti AIS Hackathon dan meraih Juara 2 di Yogyakarta. Dalam kompetisi ini, Michael berperan sebagai hustler, mengurus definisi masalah, solusi, dan dampak dari produk yang mereka rancang. Menariknya, tantangan terbesar justru bukan di tahap solusi, melainkan di tahap mendefinisikan masalah itu sendiri, karena harus divalidasi dengan data primer dan sekunder, bukan asumsi semata.

————— Michael dan teman-temannya memenangkan beberapa lomba

Bersamaan dengan eksplorasi lomba, ia juga mulai merintis pengalaman bisnis. Michael magang sebagai Product Manager pertama kalinya di OKE Garden, sebuah startup di bidang perencanaan taman, selama tiga bulan. Dari sana, ia diajak membantu pengembangan sistem internal Beenefit bersama temannya Austin, bisnis lebah madu rintisan alumni ITB. Keduanya juga sempat mendirikan bisnis proyekan sendiri, mengerjakan berbagai pekerjaan dari klien, dengan Michael menangani hampir semua lini, mulai dari pendekatan ke klien, pengelolaan sumber daya manusia, hingga keuangan. Bisnis itu akhirnya ditutup di semester 8, ketika masing-masing pendiri mulai disibukkan dengan rencana masa depan yang berbeda-beda.

Rangkaian pengalaman bisnis dan lomba inilah yang kemudian membawanya meraih gelar Mapres 1 STI ITB 2024, sebuah pencapaian yang sempat ia ragukan sendiri kemungkinannya, mengingat rekam jejak kekalahannya di awal.

Michael menerima penghargaan MAPRES STI ITB 2024

Belajar Jadi PM Lewat Kegagalan Interview Berkali-kali

Minat Michael pada Product Management mulai mengerucut sejak semester 5. Baginya, ada tiga kemampuan utama yang harus dikuasai seorang PM: teknologi, desain, dan bisnis. Dua yang pertama ia dapatkan dari bangku kuliah STI, namun pemahaman bisnis yang mendalam justru ia rasa kurang, meski sempat mempelajarinya.

Yang membuat jalur PM terasa lebih menantang adalah tidak adanya jenjang belajar yang jelas, berbeda dengan software engineer yang punya tahapan belajar front-end, back-end, dan seterusnya. Baginya, menjadi PM adalah soal learning by doing. Sebelum berhasil mendapatkan magang pertamanya di OKE Garden, Michael mengalami enam hingga tujuh kali kegagalan interview, yang menurutnya selalu gagal di tahap user interview atau case interview.

Ia kemudian meminta bantuan kakak tingkat untuk latihan mock interview secara rutin, hingga akhirnya berhasil lolos magang pertamanya sebagai PM. Dari sana, jalurnya berlanjut ke Haquhara, Makmur, GDP Labs, hingga akhirnya MIFX, tempat ia resmi menjadi Product Manager full-time sejak April 2025, sebelum ia lulus kuliah pada Agustus 2025 di tahun yang sama.

Perbedaan paling terasa antara magang dan full-time, menurut Michael, ada pada tanggung jawab dan KPI yang harus dicapai. Jika saat magang ia masih ditemani mentor dan belum punya target metrik yang jelas, saat full-time ia harus berhadapan langsung dengan VP Product Manager secara strategis, bernegosiasi dengan Engineering Manager, dan memastikan setiap keputusan produknya bisa dipertanggungjawabkan.

"Masih ada mentalnya yang kayak berpikir, ini aku masih mahasiswa loh. Percaya gak ya orang ini sama apa yang aku omongin," ujarnya mengenai masa-masa awal menjadi PM muda yang harus bernegosiasi dengan orang-orang yang jauh lebih senior.

Ia mengaku banyak minder di awal, apalagi sebagai seorang yang menurutnya cukup people pleaser. Namun, ia mencoba percaya diri sembari menyadari bahwa orang-orang berpengalaman sekalipun masih bisa membuat kesalahan.

Michael saat internship di Makmur

Titik Balik: Memilih Ketidakpastian yang Lebih Pasti

Meski sudah menikmati dunia kerja di startup dan perusahaan teknologi, satu kesadaran mulai tumbuh dalam diri Michael, bahwa industri swasta penuh dengan ketidakpastian, sementara ia sendiri adalah tipe orang yang cenderung menghindari risiko.

Awalnya, ia tidak pernah terpikir untuk masuk ke dunia pemerintahan. Bayangannya justru mengarah ke perusahaan-perusahaan besar seperti Astra atau perusahaan multinasional. Namun ketika PCPM BI membuka pendaftaran, Michael mulai mempelajari lebih jauh profil Bank Indonesia, dan menemukan bahwa meski berstatus lembaga negara, BI punya independensi yang kuat.

Ketertarikannya makin kuat setelah menyadari bahwa MIFX, tempatnya bekerja saat itu, berada di bawah pengawasan BI karena bergerak di bidang perdagangan forex. Infrastruktur transaksinya pun turut dikembangkan oleh BI. Michael kemudian mempelajari lebih jauh peran BI dalam mengembangkan sistem pembayaran seperti QRIS dan BI-Fast, serta mengatur ekosistem payment gateway seperti yang digunakan Midtrans oleh Gojek.

Ia pun memutuskan mengikuti seleksi PCPM BI, dan dinyatakan lulus. Keputusan untuk resign dari MIFX dan meninggalkan jalur PM yang sudah ia bangun sejak mahasiswa bukan keputusan kecil, namun ia merasa mantap, terutama karena departemen yang ia incar, Kebijakan Sistem Pembayaran, dianggapnya paling relevan dengan latar belakang IT dan pengalamannya sebagai PM.

Program PCPM BI berjalan selama satu tahun, dengan sembilan bulan pertama diisi fase klasikal dan orientasi, mempelajari ekonomi dari dasar hingga kebijakan bank sentral, serta berputar ke berbagai departemen untuk memahami cara kerja masing-masing unit. Tiga bulan sisanya menjadi masa probation di satuan kerja yang sesungguhnya.

Tantangan terbesar di fase ini adalah soal materi ekonomi, mengingat banyak rekan seangkatannya berlatar belakang ekonomi, akuntansi, dan bisnis, yang jauh lebih familiar dengan materi-materi tersebut. Michael mengatasinya dengan mendedikasikan waktu ekstra setiap malam, seolah ia sedang kembali kuliah ekonomi dari awal.

Dan kembali ke momen penempatan yang sempat membuatnya was-was itu: setelah melalui serangkaian asesmen dan wawancara aspirasi, Michael akhirnya ditempatkan di Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran, persis seperti yang ia harapkan sejak awal. Overthinking soal ditempatkan jauh dan latar belakang IT-nya sia-sia, ternyata tidak terbukti. Pekerjaannya sekarang banyak berkaitan dengan evaluasi QRIS, QRIS cross border, dan pengembangan BI-Fast, mulai dari use case hingga kesiapan infrastruktur menghadapi volume transaksi yang terus bertambah, pekerjaan yang menurutnya masih sangat berhubungan dengan latar belakang teknologinya sebagai PM.

Salah satu kegiatan Michael dalam PCPM BI 2025

Overthinking yang Tak Pernah Hilang, tapi Tak Pernah Menang

Jika ditelusuri lebih jauh, overthinking Michael bukan cuma muncul di momen-momen besar seperti pemilihan jurusan, lomba, atau pivot karir. Ia mengaku hampir di setiap keputusan, sekecil apapun, pola pikir yang sama selalu berputar: bisa gak ya, bisa gak ya, bisa gak ya.

Saat harus bernegosiasi dengan stakeholder sebagai PM, misalnya meminta tim engineering mengejar deadline, ia overthinking soal bagaimana perasaan orang yang ia minta tolong itu. Saat mengembangkan produk di MIFX, ia bertanya-tanya apakah fitur yang dikembangkan akan benar-benar tercapai atau justru salah arah, sampai harus riset ulang. Saat semester 3 dan 4 kalah lomba terus-menerus, ia stres mempertanyakan kelayakan dirinya sendiri. Dan seperti yang membuka cerita ini, menjelang penempatan di BI, ia sempat yakin akan ditempatkan jauh dari Jakarta dan semua latar belakang IT-nya mungkin saja tidak lagi banyak dia gunakan.

"Banyak banget yang menurutku di pikiranku ini berputar-putar tiap harinya. Tapi ya, tiap hari aku berusaha untuk mengontrol itu juga," ujarnya.

Di tengah pola pikir yang terus berputar itu, ada satu keyakinan yang selalu ia pegang dan ulangi ke dirinya sendiri setiap kali keraguan muncul:

Siapapun bisa menjadi apapun.

Bukan sebagai jaminan hasil, melainkan sebagai pengingat untuk tetap mencoba meski belum tahu hasilnya akan seperti apa.

Pesan yang ingin ia sampaikan kepada adik-adik Yasop yang masih bingung menentukan arah atau takut mencoba sesuatu, berangkat dari pengalamannya sendiri soal manajemen energi. Menurutnya, penting untuk mengukur berapa persen energi yang dialokasikan untuk kuliah, organisasi, dan karir, tanpa harus menuntut kesempurnaan seratus persen di semua lini sekaligus.

"Hidup ini gak selalu memberikan ke kita peta kehidupan kita jangka panjang," ujar Michael.

Baginya, satu-satunya cara menghadapi ketidakpastian itu adalah dengan mengambil satu langkah berikutnya yang bisa dilakukan hari ini, dan mengulanginya lagi esok hari.

Ke depan, Michael berharap bisa melanjutkan studi S2 di bidang Economics, salah satu benefit yang ditawarkan BI, sembari terbuka untuk rotasi dan eksplorasi di berbagai bidang strategis lainnya di bank sentral, dengan rencana jangka panjang berkarir di BI hingga masa pensiun.

Barangkali itulah bentuk paling jujur dari apa yang coba disampaikan lewat cerita ini. Overthinking tidak pernah benar-benar hilang, bahkan dari seseorang dengan rekam jejak seunggul Michael, dan bahkan di detik terakhir sebuah wawancara tentang overthinking itu sendiri. Yang membedakan bukan ada atau tidaknya keraguan itu, melainkan keberanian untuk tetap melangkah meski pertanyaan "bisa gak ya" itu masih berputar di kepala.

Penulis: Jessica Enaprilia Sihotang (Yasop 29)