Leadership DNA: Antara Hati, Pikiran, dan Karya Nyata
Menjadi pemimpin ideal bukan soal sempurna, tapi soal keseimbangan perform & transform. Refleksi kepemimpinan berbasis DNA Heart, Head, & Hand demi mencetak kader unggulan yang berdampak nyata.
Menjadi pemimpin ideal bukan soal sempurna, tapi soal keseimbangan perform & transform. Refleksi kepemimpinan berbasis DNA Heart, Head, & Hand demi mencetak kader unggulan yang berdampak nyata.

Beberapa waktu lalu saya mendapat pesan dari Ketum Paryasop, Bang Eko, untuk bisa menyumbang pemikiran di buletin ini. Sebenarnya sudah lama tidak menulis dan agak bingung kira-kira topik apa yang relevan? Dari berbagai topik yang terpikirkan, saya memilih untuk berbagi tentang leadership, yang juga terkait dengan pengembangan diri, tentunya bukan sebagai expert, ahli atau seorang seasoned-leader, namun sebagai seorang yang terus berusaha belajar dan bergumul untuk bertumbuh lebih baik dari hari ke hari, dengan experience jatuh dan bangun, kesuksesan dan kegagalan, keberanian dan kekhawatiran, di berbagai penugasan profesional di perusahaan/institusi yang berbeda, dan juga pengalaman belajar dan bekerja dengan banyak direksi senior, kesempatan berharga untuk menyaksikan berbagai kelebihan dan achilles heels dari banyak leaders senior.
Tentunya kita semua telah melihat dan memahami konteks perkembangan industri dan dunia saat ini dengan berbagai dinamika yang harus dihadapi: volatility, uncertainty, complexity dan ambiguity, bagaimana visualisasi seorang pemimpin yang ideal untuk menjawab tantangan zaman ini dan membawa perusahaan/institusi tetap tumbuh secara sustainable? Ideal mungkin adalah istilah yang paling tepat dibandingkan sempurna, karena tidak akan ada manusia biasa yang menjadi pemimpin yang sempurna. Dari beberapa executive education yang pernah saya ikuti, terminologi yang sering dipergunakan untuk menggambarkan pemimpin yang ideal di antaranya adalah agile leaders, transformational leaders, future-ready leaders, dan ambidextrous leaders. Untuk berbagai alasan saya prefer dengan yang terakhir, seorang leader harus ambidexter. Ambidextrous leadership framework dikembangkan oleh para ahli di IMD, sekolah bisnis top di kota Lausanne, di tepian Lake Geneva.
Secara harafiah ambidextrous berarti mampu dan terampil untuk menggunakan kedua tangan kanan dan kiri dengan sama baiknya, secara natural biasanya kita cenderung right-handed atau left-handed. Dalam konteks leadership, ini berarti seorang pemimpin yang memiliki dua kemampuan sekaligus : perform dan transform. Perform berorientasi saat ini, di mana pemimpin harus mengoptimalkan nilai dari bisnis existing, melakukan perbaikan secara holistik untuk meningkatkan profitabilitas dan daya saing. Transform berorientasi masa depan, di mana pemimpin mengeksplorasi sumber nilai yang baru melalui model bisnis baru yang bersumber dari kebutuhan customers yang belum terpenuhi dan kesempatan bisnis baru di masa depan. Dengan demikian nilai perusahaan terus meningkat dan keberlangsungan (sustainability) perusahaan selalu terjaga. Sangat menantang untuk menjadi pemimpin yang mengusai dua kemampuan ini dengan baik dan sama baiknya. Kebanyakan pemimpin memiliki kemampuan lebih baik pada satu spektrum, yaitu perform. Namun tentunya untuk memiliki dual capability adalah hal yang dapat dicapai.
Lebih lanjut, kedua kemampuan tersebut diaplikasikan dalam 5 peranan seorang leader yaitu leading strategy, leading execution, leading people, leading stakeholders dan leading self. Setiap pemimpin memiliki kekuatan dan kelebihan. Seorang pemimpin yang stratejik dan visioner sering lemah mengeksekusi. Pemimpin yang hebat dalam mengeksekusi, seorang jenderal lapangan, seringkali mengalami kesulitan menjalankan peranan sebagai seorang strategist. Leader yang sangat lincah dalam membangun networking dengan berbagai pemangku kepentingan, seorang yang hangat, motivator yang hebat dan mampu memimpin dan menjaga stabilitas tim, biasanya kesulitan menjalankan peranan perencanaan jangka panjang yang biasanya dijalankan seorang strategist. Intinya, leader yang mampu menjalankan semua peran ini dengan optimal dan sama baiknya sangat terbatas. Biasanya pemimpin memiliki kecenderungan alami untuk menonjol dan nyaman di 2-3 peranan, dan kemudian terus menyempurnakan dan memperkuat diri di peranan lainnya. Tentu setiap pemimpin berbeda kekuatan dan kelemahannya, yang kontekstual berdasarkan personal background (terutama keluarga, budaya, lingkungan, pendidikan, dan role model pribadi), core competence, dan track record profesional (jabatan, exposure bertugas di fungsi, project, dan institusi yang berbeda). Menjadi seorang pemimpin yang well-rounded adalah never ending journey of growth and learning.
Dengan dua kemampuan (perform dan transform) dan 5 peran leaders tersebut, akhirnya terdapat 10 atribut yang harus dimiliki seorang leader seperti pada visualisasi berikut:
Pembaca dapat mendalami framework ini lebih lanjut melalui berbagai literatur on-line.
Ambidextrous leaders adalah seorang yang well-rounded, memiliki semua atribut tersebut dengan nilai maksimal. Saat ini, best talents di lingkungan BUMN, yang dipilih dari talent pool masing-masing BUMN, ditantang untuk terus belajar dan tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin yang ideal, yang memiliki seluruh atribut ambidexterity, melalui development program yang disebut Top Gun.
Demikian gambaran kemampuan, peranan dan atribut seorang leader yang relevan dengan konteks saat ini. Namun, isu terpenting adalah bagaimana seseorang bisa tumbuh untuk menjadi pemimpin seperti itu? Sebagai leader dan individu, apakah yang memampukan seseorang untuk bisa mencapai hal tesebut? Bagaimana seorang pemimpin, memimpin dirinya sendiri? Pertanyaan ini tidak mudah, dan jawabannya akan cenderung subjektif, tergantung purpose, meaning dan worldview (cara pandang melihat dunia) seseorang.Deep-down, it’s a personal journey.
Karena leadership adalah sebuah perjalanan dan seorang leader bertumbuh terus menjadi lebih mature dan well-rounded, diperlukan prinsip dan ethos yang dipegang teguh untuk terus bertumbuh, yang memampukan untuk keep moving menghadapi tantangan baru, pengalaman baru, lingkungan baru, dan responsibility yang lebih berat. Tidak mudah dan tentu tidak nyaman, namun melalui inilah seseorang bisa tumbuh menjadi lebih kuat dan lengkap, di mana seorang leader mendapat kesempatan untuk memperkuat aspek lemah di dalam dirinya, strengthening the weak muscles. Contohnya, jika seseorang introvert by nature, agar lebih lengkap dia harus menjadi extrovert by hard-work. Jika mumpuni di lini bisnis dan operasional, ditugaskan untuk job enrichment ke fungsi finance & strategy, maka harus secepat mungkin mempelajari fungsi yang baru. Sehingga di masa depan ketika dipercaya menjadi leader pada team/department/division maupun corporate level, pada saat itu akan menyadari dan bersyukur, untunglah sebelumnya knowledge dan experience sudah diperkaya melalui berbagai job rotation dan enrichment.
Proses bertumbuh menjadi leader, yang tidak mudah dan seringkali painful, through blood and tears,membutuhkan self-motivation, humility dan perseverance. Aspek pergumulan personal ini yang jarang dibahas mendalam, yang melibatkan hati, pikiran dan tindakan. Menurut saya, inilah DNA dari leadership dan personal development. Leadership DNA ini berwujud triple-helix : The Heart, The Head and The Hand.
Seorang leader harus memiliki seluruh fundamentals tersebut. Pemimpin yang hatinya bermasalah tidak memiliki integritas dan moral compass, akan cenderung korup, otoriter, merasa diri sebagai pusat dunia, dan memiliki penyimpangan moral lainnya, dan damage-nya bisa luar biasa. Seorang maling jemuran, jika dididik semakin cerdas, tanpa perubahan hati, akan tumbuh menjadi maling perbankan atau maling keuangan negara. Pemimpin yang berhati baik, namun kognitif/pemikirannya di bawah rata-rata akan sulit mengarahkan tim karena tidak memiliki visi, mudah ditipu dan dimanfaatkan pihak lain yang lebih cerdas. Pemimpin yang berhati baik, berpikiran tajam namun tidak ada rekam jejak karya nyata, tidak turun langsung ke lapangan, akan dianggap seorang ivory tower thinker, fasih berbicara dengan konsep dan model, namun tidak ada eksekusi, di awal akan memberikan efek “Wow” dengan bahasanya yang eloquent, namun hanya menunggu waktu anggota team akan pasif dan meninggalkannya.
Namun bagaimana untuk tumbuh dan semakin baik pada ketiga aspek fundamental ini?, adakah panduan komprehensifnya? Siapakah yang bisa menjadi role model? Saya pribadi hanya bisa menyarankan untuk kembali ke buku tua yang bernama Holy Bible, yang berisi Firman yang dapat membongkar kebusukan hati dan selanjutnya menghangatkan, menghidupkan dan memurnikannya, yang menunjukkan kebodohan pikiran manusia dan selanjutnya membuat bijaksana, yang menegur manusia untuk menghargai, menebus waktu dengan tangan yang rajin, bertindak sigap dan cepat. Yesus Kristus, sebagai ultimate role model seorang leader, melalui seluruh karya-Nya di bumi mendemonstrasikan integrasi hati, pikiran dan tindakan dan mengajarkan manusia The Great Commandment : Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:37-39). Bertumbuh mengenal Dia memampukan kita bertumbuh secara pribadi dan sebagai pemimpin.
Bagi profesional, teknokrat, dan juga aparatur sipil negara, Yusuf dan Daniel mungkin menjadi role model yang juga relevan. Yusuf adalah seorang berhati mulia, menjaga kemurnian dengan menolak bersetubuh dengan istri tuannya, setia dari perkara kecil mengelola rumah tuannya, kemudian mengelola penjara, sampai akhirnya dipercaya mengelola seluruh kerajaan Mesir, dia tidak dendam kepada saudaranya yang telah menjualnya. Pikirannya tajam dan berbobot, memiliki strategic foresight, menciptakan desain makroekonomi 14 tahun ke depan dengan strategi yang teori ekonomi modern menyebutnya sebagai counter cyclical fiscal policy untuk stabilisasi 7 tahun kelimpahan dan 7 tahun kelaparan. Tangannya terampil dan cepat bertindak, mengeksekusi rencana masterplan yang telah dia rancang, mengelilingi seluruh Mesir, membangun sistem inventory dan logistik gandum, sampai tiba masa kelaparan, akhirnya Mesir dan regional di sekitarnya terselamatkan. Semua karena Roh Tuhan menyertai dia. Demikian Daniel, polanya juga hampir sama.
Di sepanjang personal journey untuk tumbuh menjadi leaders, seperti pola pada pemimpin-pemimpin besar dalam Alkitab, kita memerlukan penyertaan-Nya. Yusuf, sang pejabat tertinggi Mesir setelah Firaun (setara dengan Perdana Menteri untuk konteks saat ini), seperti telah dijelaskan sebelumnya, disertai Tuhan sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil (Kej 39:2). Musa, Tuhan menyampaikan kepadanya : Hadirat-Ku berjalan menyertai engkau (Kel 33:14). Yosua, pemimpin pengganti Musa, Tuhan berkata kepadanya : seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai Engkau (Yos 1:5). Dalam kasus Yosua, pentingnya aspek heart ditekankan secara khusus, di mana Tuhan berkali-kali menekankan kepadanya “kuatkan dan teguhkanlah hatimu”, seakan mengimplikasikan kekhawatiran dan ketakutan Yosua apakah dia mampu menjadi leader pengganti Musa. Daud, dicatat bahwa Daud makin lama makin besar, sebab Tuhan menyertainya (2 Sam 5:10). Kesimpulannya, penyertaan Tuhan mutlak kita perlukan.
Sebagai penutup dan self-reflection, kita harus terus bertumbuh di semua leadership DNA. Namun di antara heart, head dan hand, manakah yang menjadi prioritas awal untuk bertumbuh? Saya percaya, the Heart. It’s the heart that matters most. Root cause permasalahan pertumbuhan ada pada hati.Ini adalah permasalahan klasik umat manusia sejak jatuh ke dalam dosa. The heart of the problem is the problem with the human heart (Oswald J Smith). Mengingat kembali masa-masa sewaktu mengenyam pendidikan di asrama, sepertinya aspek the Head yang cenderung kita perkuat, dan kebanyakan institusi pendidikan memang seperti ini, sangat terbatas yang menguatkan siswa dari aspek the Heart. Jika aspek ini dengan serius diperkuat, siswa akan self-less, rendah hati namun sekaligus optimis dan berani, tekun dan penuh pengharapan di masa-masa sulit, bertumbuh bersama melalui sharing kelebihan masing-masing, peduli dengan kelemahan siswa lain dan bersama-sama saling membangun, setiap siswa akan berpacu dengan dirinya sendiri dan tidak melihat yang lain sebagai pesaing, hubungan senior dan junior juga akan semakin sehat, akan lebih banyak kisah indah yang bisa dikenang dan bonding antara alumni akan semakin kuat. Demi masa depan yang lebih baik, dan lebih banyak kader pemimpin dari Asrama TB Soposurung, aspek ini perlu mendapat perhatian khusus sejak dini.
Semoga semakin banyak leaders yang dihasilkan dari Asrama TB Soposurung, dan semoga kita semua terus bertumbuh menjadi pribadi dan pemimpin yang semakin baik dari hari ke hari. Semoga tulisan ini bermanfaat dan bernilai, sebelumnya mohon maaf jika ada kekurangan dan ada yang kurang berkenan.
Tuhan memberkati dan menyertai kita semua.
“Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.”
“Humble yourselves, therefore, under the mighty hand of God so that at the proper time he may exalt you”
~ 1 Peter 5:16 ~
Sahat P Pangaribuan
Yasop 2001