Mengenal Yayasan Soposurung
Yasop dikenal sebagai Yayasan Tunas Bangsa Soposurung, adalah lembaga pendidikan berasrama di Balige, Sumatera Utara, yang bertujuan membina siswa berprestasi melalui disiplin semi-militer
Yasop dikenal sebagai Yayasan Tunas Bangsa Soposurung, adalah lembaga pendidikan berasrama di Balige, Sumatera Utara, yang bertujuan membina siswa berprestasi melalui disiplin semi-militer

Di sudut tenang Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, berdiri sebuah lembaga pendidikan yang telah lebih dari tiga dekade menjadi mercusuar harapan bagi anak-anak muda Tapanuli. Namanya Yayasan Tunas Bangsa Soposurung, atau yang lebih dikenal dengan sebutan YASOP, sebuah institusi yang lahir dari kerinduan seorang putra Batak untuk membangun kampung halamannya melalui jalur pendidikan.
Berangkat dari keinginan untuk berbakti bagi Bangsa dan Negara lewat bidang pendidikan di Indonesia, khususnya di kawasan Tapanuli, atas prakarsa TB Silalahi dan rekan-rekannya yang merupakan para alumni SMA Soposurung tahun 1950-an hingga 1960-an, didirikanlah Yayasan Soposurung pada tahun 1990
Sosok di balik pendirian yayasan ini adalah Letnan Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Tiopan Bernhard Silalahi, seorang tokoh besar yang perjalanan hidupnya tak kalah menginspirasi. Lulusan Akademi Militer Nasional tahun 1961 ini menapaki karier cemerlang di militer hingga menjabat sebagai Asisten I Kasad dengan pangkat Mayor Jenderal pada tahun 1988, sebelum kemudian dipercaya menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dalam Kabinet Pembangunan VI era Presiden Soeharto
Menurunnya mutu pendidikan di Bonapasogit, sebutan untuk kampung halaman masyarakat Batak Toba, menggerakkan hati TB Silalahi untuk turut serta bertanggung jawab.
Setelah perjanjian kerjasama antara Yayasan Soposurung dengan pemerintah ditandatangani, pembangunan asrama di kompleks SMA Negeri 2 Balige pun dimulai. Pada 16 Juli 1992, Asrama YASOP diresmikan di hadapan para undangan yang terdiri atas pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, dan warga Tapanuli Utara. Sebagai tanda peresmian, sebuah prasasti batu pualam ditandatangani oleh Dirjen Dikdasmen Prof. Dr. Hasan Walinono, Gubernur Sumatera Utara Raja Inal Siregar, dan pendiri YASOP, Mayjen TNI T.B. Silalahi.
Sekolah yang didirikan pada 1991 ini ibarat mata uang dengan dua sisi yang berbeda namun satu tujuan dalam menyelenggarakan pendidikan nasional. Satu sisi adalah sekolah milik pemerintah, yakni SMAN 2 Balige, dan satu sisi lainnya adalah pengelolaan swasta oleh Yayasan Soposurung.
Yayasan ini didirikan dengan visi menjadi pusat pendidikan karakter untuk membentuk kader atau Tunas Bangsa calon pemimpin bangsa yang cerdas, berakhlak mulia, dan nasionalis.
Peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya daya saing kaum muda di Bonapasogit, hanya dapat tercapai bila ada sarana pendidikan yang mampu menjadi wadah pembentukan siswa-siswi berkarakter unggul, baik dalam akademis maupun kepribadian.
Slogan yang diusung pun mencerminkan cita-cita luhur tersebut: Cerdas – Mulia – Nasionalis.
YASOP menerapkan sistem asrama penuh (boarding school) yang memadukan keunggulan akademis dengan pembinaan karakter secara menyeluruh. Rahasia keunggulannya diperoleh dari perpaduan keunggulan akademis dengan pembinaan spiritual, kecintaan budaya, disiplin tinggi, kemandirian, fisik dan jasmani yang sehat, serta pemanfaatan ekstrakulikuler dan bimbingan belajar yang sistematis dan terarah
Proses penerimaan siswa dilakukan melalui seleksi yang sangat kompetitif. Setiap tahunnya, awalnya hanya 40 orang putra-putri terbaik Bonapasogit yang diterima; sejak 2008 bertambah menjadi 80 orang, dan kini telah menjadi 120 orang yang digembleng mental dan karakternya di samping mengikuti pendidikan formal di SMAN 2 Balige.
Sekolah ini tidak hanya memberi pendidikan, tetapi juga membentuk siswa yang pintar sekaligus memiliki karakter kuat.
Sesuai aturan yang berlaku di Indonesia, Yayasan Soposurung Balige berubah nama menjadi Yayasan Tunas Bangsa Soposurung berdasarkan Akta Nomor 6 Tanggal 03 Juli 2019. Kemudian pada tanggal 16 Juli 2019, disahkan melalui Keputusan Menteri Hukum dan HAM Nomor AHI-0000515.AH.01.05 Tahun 2019
Lebih dari tiga dekade beroperasi, YASOP telah mencetak ratusan alumni berkualitas tinggi. Kini Asrama Yayasan Soposurung Balige telah meluluskan lebih kurang 1.260 alumni yang masuk ke berbagai Perguruan Tinggi Negeri favorit, seperti ITB, UI, UNPAD, UGM, UNDIP, USU, ITS, serta Akademi dan Perguruan Tinggi Kedinasan
Tidak hanya dalam negeri, banyak alumni yang juga melanjutkan studi ke luar negeri, seperti Purdue University (Amerika Serikat), University of Sorbonne (Prancis), Australian National University, University of Wollongong New South Wales (Australia), TU Delft (Belanda), dan National Taiwan University of Science and Technology.
Para alumni tersebut kini telah tersebar di berbagai wilayah dan memasuki dunia pekerjaan dengan menggeluti berbagai bidang seperti pemerintahan, kejaksaan, kepolisian, hingga dunia wirausaha
Pada 13 November 2023, dunia pendidikan Indonesia berduka. TB Silalahi meninggal dunia di RS Medistra, Jakarta, pada usia 85 tahun. Ia dikenal dengan penuh kasih sayang oleh para alumni sebagai Oppung TB.
Seorang yang pernah mendampinginya selama 13 tahun mengenangnya sebagai seorang nasionalis sejati sekaligus putra Batak Toba yang sangat mencintai Tanah Batak, dengan visi yang sangat visioner soal pendidikan dan pengembangan SDM Batak.
Namun warisan yang ia tinggalkan tidak akan padam. Lebih dari tiga dekade sejak 1990, Yayasan Tunas Bangsa Soposurung merupakan legacy dari sejarah panjang cita-cita para Founding Fathers yang semangatnya senantiasa hadir sebagai inspirasi nilai-nilai keteladanan.
Seiring dengan dinamika perkembangan zaman, Asrama Yayasan Soposurung Balige diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi secara global, tanpa menghilangkan nilai-nilai yang telah menjadi fondasinya.
Yayasan Tunas Bangsa Soposurung bukan sekadar sekolah biasa. Ia adalah bukti nyata bahwa pendidikan yang berakar pada nilai karakter, kedisiplinan, dan semangat kebangsaan mampu melahirkan generasi-generasi unggul yang membawa nama Tapanuli, bahkan Indonesia, ke panggung dunia.