Berita18 April 2026Oleh: Eko Pardede   (Pelaku Wisata Toba & Ketua Umum Paryasop – Perkumpulan Alumni Asrama Yayasan Tunas Bangsa Soposurung)

Menjemput Janji di Tanah Para Raja: Catatan dari Toba Caldera Resort

Toba Caldera Resort jadi motor ekonomi Danau Toba lewat lonjakan kunjungan dan investasi hasil terobosan regulasi BPODT. Fasilitas serta event internasional kian memperkuat daya tarik. Namun, pemberdayaan masyarakat lokal tetap krusial agar manfaat pembangunan dirasakan merata serta berkelanjutan.

Menjemput Janji di Tanah Para Raja: Catatan dari Toba Caldera Resort

Jumat (17/4/2026) kemarin, di sela-sela peresmian Nimo Kaldera oleh Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, saya menyempatkan diri berkeliling Toba Caldera Resort (TCR). Sebagai putra daerah dan Ketua Umum Paryasop yang memiliki janji moral memajukan Bona Pasogit, saya melihat ada narasi besar yang selama ini luput dari mata publik, terutama di balik kritik-kritik yang sering dialamatkan kepada BPODT.

Berbicara Berbasis Data, Bukan Sentimen

Seringkali penilaian terhadap sebuah lembaga hanya didasarkan pada ketidaksukaan atau kepentingan politis sesaat. Namun, sebagai pelaku wisata, saya lebih memilih melihat data nyata. Efek kehadiran TCR terhadap kunjungan wisatawan sangatlah signifikan. Mari kita bedah angkanya:

2022: 214.144 Pengunjung

2023: 286.573 Pengunjung

2024: 246.025 Pengunjung

2025: 162.308 Pengunjung

2026 (Jan-Mar): 54.003 Pengunjung

Secara akumulatif, total kunjungan mencapai 963.053 pengunjung. Nyaris satu juta orang hadir di kawasan ini dalam kurun waktu sekitar tiga tahun terakhir. Bisa kita bayangkan betapa besarnya efek ekonomi yang berputar dan dirasakan oleh masyarakat di sekitar kaldera, bahkan hingga ke kabupaten-kabupaten tetangga. Data ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa TCR telah menjadi magnet ekonomi baru, terlepas dari segala dinamika yang ada.

Perjuangan di Balik Layar: Melawan "Dinding" Regulasi

Banyak yang bertanya, mengapa investasi di TCR seolah terlihat lambat di awal? Fakta yang jarang diketahui publik adalah kesulitan luar biasa yang dihadapi jajaran pimpinan BPODT dalam meyakinkan investor untuk membangun mega proyek. Kendala utamanya adalah masa sewa lahan yang menurut aturan lama hanya 30 tahun.

Bagi investor besar, angka itu tidak masuk akal untuk proyek pariwisata yang memerlukan modal raksasa. Mereka setidaknya membutuhkan kepastian hingga 80 tahun. Inilah yang terus diperjuangkan secara gigih oleh pimpinan BPODT ke pemerintah pusat. Munculnya

investasi saat ini adalah hasil dari "pertarungan" regulasi tersebut yang mulai membuahkan hasil.

Bukti Nyata: Destinasi yang Tak Lagi Sekadar Wacana

BPODT telah membuktikan bahwa TCR bukan lagi sekadar hamparan lahan kosong melalui proyek-proyek yang sudah berhasil diimplementasikan:

Bobocabin: Huniansmart cabinberbasis teknologi yang sukses menarik segmen generasi muda.

Glamping Kaldera Toba: Penginapan eksklusif yang mengisi cerah pasar premium.

Dunia Outbound: Fasilitas wisata berbasis kegiatan untuk keluarga dan korporasi.

Nimo Kaldera (Nimoland Group): Magnet baru dengan wahana lengkap sepertiColor Splash Slide,Rainbow Slide,ATV Adventure,Sky Bike,Nimo Zoo, berkuda,Keranjang Sultan, hingga area kuliner yang spektakuler.

Membawa Dunia ke Danau Toba & Lokomotif Infrastruktur

Kehadiran ajang internasional seperti F1H2O (Powerboat) dan Trail of the Kings by UTMB (yang sudah menjadiWorld Series) bukanlah kebetulan. BPODT berhasil menjadi inisiator dan memboyong event bergengsi ini, memberikan eksposur global yang luar biasa.

Selain itu, BPODT menjadi motor penggerak infrastruktur. Jalanan mulus di kawasan Sibisa, Motung, hingga Ajibata, pengembangan Bandara Sibisa, hingga percepatan Jalan Tol Medan-Parapat tidak lepas dari keberadaan proyek strategis nasional yang dikelola oleh BPODT ini. Banyak yang menikmati fasilitasnya sekarang, namun tidak tahu proses panjang di baliknya.

Optimisme di Balik Catatan Kritis

Saya memahami jika ada rasa kecewa karena beberapa target mungkin belum tercapai

100%. Namun, memberikan penilaian haruslah berbasis data prestasi yang sudah ada. Prestasi BPODT mungkin tidak selalu riuh, tapi sudah dirasakan manfaatnya melalui akses jalan dan perputaran ekonomi dari sejuta pengunjung tadi.

Catatan penutup saya tetap satu: Konsistensi pemberdayaan masyarakat harus lebih nyata. Kemajuan fisik dan investasi besar ini harus dibarengi dengan peningkatan ekonomi yang nyata di dapur-dapur masyarakat lokal agar mereka tidak hanya menjadi penonton.

Bagi kami di Paryasop, melihat pembangunan yang bergerak maju adalah sebuah harapan. BPODT telah meletakkan fondasi; tugas kita adalah mengawal agar momentum ini terus terjaga demi kejayaan Danau Toba.

Horas!

Berita Lainnya