Berita14 Oktober 2026

Pakan di Balik Ikan Budidaya: Saat Solusi Overfishing Memunculkan Tekanan Baru di Laut

Akuakultur dipromosikan sebagai solusi penangkapan berlebih, padahal sebagian besar ikan budidaya diberi pakan dari ikan kecil tangkapan laut. Artikel ini membahas dampaknya di rantai pasok global, Afrika Barat, dan Indonesia, serta alternatif pakan yang lebih berkelanjutan.

Akuakultur di laut lepas

Janji besar akuakultur


Selama puluhan tahun, budidaya ikan dipromosikan sebagai jalan keluar dari penangkapan berlebih. Logikanya sederhana: kalau ikan bisa dibesarkan di kolam atau keramba, laut tidak perlu terus dikuras. Data FAO mendukung sebagian dari cerita ini. Produksi perikanan dunia mencapai puncak sekitar 171 juta ton pada 2016, dan hasil tangkapan laut relatif stagnan sejak akhir 1980-an, sehingga pertumbuhan pasokan ikan untuk konsumsi manusia hampir seluruhnya datang dari akuakultur.


Namun ada satu pertanyaan yang sering terlewat: apa yang dimakan ikan budidaya?


Pakan yang berasal dari laut


Banyak ikan karnivora dan udang membutuhkan protein tinggi. Sumber yang paling praktis adalah tepung ikan dan minyak ikan, yang dibuat dari ikan kecil seperti teri, sarden, dan lemuru. Tekanan terhadap laut tidak hilang, hanya berpindah dari piring konsumen ke dalam karung pakan. Statistik FAO menunjukkan hal ini. Porsi akuakultur mencapai 47 persen dari total produksi pada 2016, tetapi naik menjadi 53 persen bila penggunaan non-pangan seperti reduksi menjadi tepung ikan dan minyak ikan dikeluarkan dari hitungan. Sebagian ikan yang ditangkap tidak pernah menjadi makanan di meja, melainkan bahan pakan. Menurut investigasi yang akan dibahas di bawah, sekitar seperlima ikan tangkapan dunia kini dipakai untuk keperluan selain konsumsi langsung.


Temuan dari kapal dan pabrik: investigasi The New York Times


Investigasi Ian Urbina bersama Outlaw Ocean Project, yang dimuat The New York Times pada 8 Oktober 2026, menelusuri rantai pakan ini dari hulu. Tim reporter dari puluhan negara memetakan sekitar 1.400 pabrik tepung ikan dan lebih dari 2.400 kapal yang terhubung dengan produksinya. Mereka mengunjungi pabrik dan tambak, bahkan naik ke kapal di tengah laut. Hasilnya, lebih dari 250 perusahaan makanan laut tercatat memiliki kasus pelanggaran atau masalah serius dalam rantai pasoknya.


Di laut. Armada penyuplai bahan baku tepung ikan berjumlah lebih dari 10.000 kapal, dengan sasaran utama ikan kecil seperti teri dan sarden. Menurut penelitian yang dikutip laporan itu, setidaknya separuh spesies yang mereka tangkap masuk kategori tereksploitasi berlebih. Ratusan kapal memakai pukat dasar yang merusak dasar laut, dan ratusan lainnya tercatat menangkap ikan di perairan terlarang, melampaui kuota, atau tanpa izin. Anak buah kapal menceritakan paspor yang disita, jam kerja sampai 15 jam sehari, dan kekerasan fisik oleh perwira kapal. Di sejumlah kapal China dan Rusia, tim menemukan kasus kerja paksa, jerat utang, dan kematian pekerja.


Di darat. Pabrik tepung ikan umumnya berada di pesisir dan menimbulkan bau menyengat yang dapat mengganggu pariwisata dan kesehatan. Laporan itu menyebut sekitar 16,5 juta orang tinggal dalam radius satu mil dari pabrik-pabrik tersebut. Zat penyebab bau, trimetilamina, disebut berpotensi karsinogenik. Risiko kecelakaan juga tinggi: sejak 2018 tercatat sedikitnya 20 kebakaran atau ledakan di pabrik maupun kapal. Di Peru, produsen terbesar dunia, lebih dari selusin pekerja meninggal sejak 2019, antara lain karena gas beracun dari ikan yang membusuk di palka. Di India, pabrik menjadi sasaran protes warga yang berujung bentrokan.


Di balik pemantauan. Sejumlah kapal mematikan transponder atau memalsukan posisi agar lolos dari pengawasan. Di Mauritania, sedikitnya 21 kapal asing tercatat menyembunyikan lokasi antara 2019 dan 2025. Seorang aktivis lingkungan di sana ditahan sekitar dua bulan setelah mengunggah dugaan penangkapan ilegal oleh kapal asal Turki, dan dilepas setelah mendapat tekanan dari organisasi hak asasi manusia internasional.


Di piring konsumen. Lebih dari 80 persen makanan laut yang dikonsumsi di Amerika Serikat berasal dari impor, dan hanya sebagian kecil yang diperiksa. Laporan itu menelusuri salmon dari Xinjiang, China, yang menurut penelusuran mereka bisa sampai ke jaringan distribusi besar di Amerika. Pemerintah AS kemudian memasukkan produsennya, Xinjiang Tianyun Organic Agriculture, ke daftar perusahaan terlarang. Perusahaan itu membantah terlibat kerja paksa.


Studi kasus Afrika Barat


Dampak paling terdokumentasi terlihat di pesisir Mauritania, Senegal, dan Gambia. Di sana, ikan pelagis kecil seperti sardinella dan bonga adalah sumber protein hewani utama warga. Studi di jurnal Frontiers in Marine Science menyebut ikan pelagis sebagai sumber protein hewani utama di Senegal dan Gambia, dan stoknya sudah mengalami eksploitasi berlebih dalam beberapa tahun terakhir.


Pada saat yang sama, industri tepung ikan tumbuh pesat. Perdagangan tepung dan minyak ikan dari kawasan ini naik sepuluh kali lipat antara 2010 dan 2019, dari sekitar 13.000 ton menjadi lebih dari 170.000 ton, dengan lebih dari 50 pabrik yang sebagian besar dimiliki pihak asing. Laporan Greenpeace Africa dan Changing Markets memperkirakan lebih dari setengah juta ton ikan kecil diambil dari perairan Afrika Barat setiap tahun, yang menurut mereka cukup untuk memberi makan lebih dari 33 juta orang di kawasan itu.


Dampaknya terasa langsung di pasar lokal. Laporan dari Gambia pada 2018 mencatat harga bonga dan sardinella di sana naik hingga 50 persen, sementara nelayan kecil makin sulit bersaing dengan kapal industri. Aturan di atas kertas juga sering berbeda dari praktik. Hukum Senegal mengharuskan pabrik memakai hasil sampingan yang tidak layak dikonsumsi, tetapi ada bukti jelas bahwa pabrik memakai ikan segar. Di Mauritania, negara itu pernah sepakat menghentikan bertahap pabrik tepung ikan pada 2020, namun 25 pabrik milik asing justru melipatgandakan produksi hingga tiga kali. Kerugian ini melampaui soal harga ikan. Nelayan yang kehilangan mata pencaharian ikut mendorong gelombang migrasi nekat menuju Eropa, sebagaimana dilaporkan dalam investigasi Outlaw Ocean Project.


Bagaimana dengan Indonesia?


Indonesia termasuk pemain penting dalam cerita ini. Sebagai salah satu produsen udang dan ikan budidaya besar, kebutuhan pakannya sangat besar. Kementerian Kelautan dan Perikanan pernah menghitung bahwa target produksi budidaya 2021 sebesar 19,47 juta ton membutuhkan sekitar 9,6 juta ton pakan, dan dengan asumsi kandungan tepung ikan 20 persen untuk pakan udang dan 10 persen untuk pakan ikan, dibutuhkan sekitar 1,14 juta ton tepung ikan.


Pakan juga menentukan untung rugi petambak. Pakan disebut menguasai sekitar 80 persen biaya budidaya ikan dan udang. Ketergantungan pada impor menambah tekanan. Beberapa tahun lalu, impor bahan baku pakan ikan masih berkisar 60 persen dari kebutuhan nasional, sementara produksi lokal baru sekitar 1 persen. Pemerintah sempat mengklaim kemajuan lewat program pakan mandiri, dan impor bahan baku pakan turun 27 persen, dari 303.932 ton pada 2015 menjadi 221.564 ton pada 2016. Data ini sudah cukup lama, jadi gambaran terkini perlu dicek ke sumber resmi terbaru.


Artinya, tepung ikan yang dipakai tambak Indonesia terhubung dengan pasar global, termasuk pasokan dari kawasan bermasalah seperti diuraikan di atas. Bagi eksportir udang yang menyasar pembeli di Amerika Serikat dan Eropa, ini juga risiko bisnis. Pembeli besar makin menuntut ketertelusuran rantai pasok, dan isu kerja paksa serta penangkapan ilegal di hulu pakan bisa menjadi pertanyaan audit.


Jalan keluar yang sedang dicoba

  • Bahan baku lokal pengganti. KKP pernah mendorong pemanfaatan bahan lokal. Sebagai pengganti tepung ikan impor, bahan yang disebut antara lain bungkil sawit, eceng gondok, dan ampas kelapa. Di tingkat penelitian, uji di Universitas Mataram menunjukkan tepung kepala udang sebagai substitusi sebagian tepung ikan pada pakan nila menghasilkan pertumbuhan yang sama baiknya dengan pakan komersial.
    Memanfaatkan limbah, bukan ikan segar. Sisa pengolahan ikan seperti kepala dan tulang bisa dijadikan tepung ikan, sehingga ikan layak konsumsi tetap untuk manusia. Pendekatan ini juga menjadi rekomendasi dalam investigasi Outlaw Ocean Project.
  • Budidaya spesies yang tidak butuh pakan. Kerang, tiram, dan remis menyaring makanan dari air sehingga tidak memerlukan pakan buatan. Investigasi yang sama juga menyebut alga, serangga, dan protein mikroba sebagai alternatif.
  • Standar dan ketertelusuran. Sertifikasi tepung ikan lokal, yang pernah disiapkan KKP, sejalan dengan tuntutan pembeli global akan sumber bahan baku yang jelas.

Penutup


Akuakultur tetap memegang peran penting bagi pasokan pangan dunia, dan tidak adil menyimpulkan bahwa seluruh industrinya bermasalah. Meski begitu, klaim "menyelamatkan laut" menjadi tidak utuh jika ikan budidaya diberi makan ikan yang sebelumnya menopang nelayan kecil di belahan dunia lain. Pertanyaan yang layak diajukan konsumen, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan sama: dari mana pakannya berasal, dan siapa yang menanggung biayanya?


Sumber: The New York Times (Ian Urbina, Outlaw Ocean Project, 8 Oktober 2026), FAO (SOFIA 2018), Greenpeace Africa dan Changing Markets (lewat ADF Magazine), Frontiers in Marine Science (2023), Earth Journalism Network, News Deeply (2018), Mongabay Indonesia, Republika, Okezone, dan penelitian Universitas Mataram.

Berita Lainnya