NTU25 Oktober 2026Finansia Pucci Purba13 menit baca

Dari Sidikalang ke Pulau Formosa: Perjalanan Finansia Pucci Menembus Batas

Berasal dari Sidikalang dan sempat bermimpi kuliah di ITB, Finansia Pucci Purba (Yasop 30) justru melangkah ke National Taiwan University lewat Beasiswa Maju. Kisahnya tentang beradaptasi dari nol di negeri asing, lulus sarjana tepat waktu, hingga kini menempuh S2 sambil menjadi research assistant.

Finansia Pucci Purba di kampus National Taiwan University

Sejauh mana jaringan alumni Yasop menjangkau dunia? Dari Sabang hingga Merauke, jejak Paryasop telah tersebar di berbagai penjuru nasional. Sampai situ saja? tentu tidak. Berbicara tentang Paryasop dengan jejaring alumni yang selalu dibanggakan, jangkauannya ternyata tidak berhenti di batas Indonesia saja. Di berbagai belahan dunia, para alumni terus melangkah, membawa cerita dan perjalanan mereka masing-masing. Kali ini, kita akan menelusuri salah satu kisah tersebut alumni yang kini berada di Taiwan, pulau yang dikenal luas sebagai salah satu macan teknologi di Asia. Di balik gemerlap kemajuan teknologi negeri ini, tersimpan cerita tentang mimpi yang berubah arah, keberanian menghadapi tantangan, dan perjalanan menemukan peluang di tempat yang jauh dari rumah.

Pucci di kampus National Taiwan University

Dalam cerita kali ini, penulis akan mengajak para pembaca mengenal perjalanan inspiratif salah satu Alumni Angkatan XXX (Xeperium), Finansia Pucci Purba yang saat ini tengah melanjutkan pendidikan magister di National Taiwan University (NTU), Taiwan. Melalui obrolan interaktif yang sudah dilakukan oleh penulis bersama tokoh utama dalam artikel ini, penulis kemudian merangkumkan kisah tentang perjuangan, pilihan, dan keberanian untuk terus melangkah dalam meraih masa depan.

Berawal pada kondisi finansial keluarga serta mimpi untuk melanjutkan pendidikan di ITB, perjalanan Pucci justru membawanya ke Taiwan, tempat ia menghadapi berbagai tantangan baru, beradaptasi dengan lingkungan dan bahasa yang berbeda drastis, hingga menemukan kesempatan untuk terus mengembangkan diri di bidang teknik sipil dan teknologi. Dari Sidikalang hingga NTU, kisah Pucci menjadi pengingat bahwa jalan menuju impian tidak selalu berjalan sesuai rencana. Namun, dengan ketekunan, keberanian menghadapi tantangan, dan keyakinan untuk terus mencoba, sebuah jalan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya dapat membuka peluang yang bermakna.

Memilih Yasop sebagai Tempat Bertumbuh

Sebelum ke Taiwan, Pucci memilih di antara tiga SMA bergengsi: Sutomo 1 Medan, Unggul Del, dan Yasop. Ia diterima di Del dan Yasop, dan orang tuanya mendukung Yasop karena biayanya lebih ringan.

Secara akademik, Yasop ada di bawah dua sekolah pilihan awalnya. Namun pengembangan karakter dan koneksi yang ia bangun di sana menjadi bekal yang masih terasa manfaatnya sampai sekarang.

“Yasop saat itu menurutku cukup baik, selain guru yang perhatian, murid murid di dalamnya juga kompetitif, sehingga we bound with the environment. Dari segi akademik, dibanding keduanya (Sutomo dan DEL) menurutku akademik YASOP sendiri masih kurang tapi dibandingkan SMA lainnya jauh lebih baik. Tapi di sisi lain, Yasop juga diajarin character developmentnya, dan koneksinya. Aku ngerasa di YASOP lebih ngebangun koneksi, which is sangat berguna di saat sekarang.”

Pucci mengakui bahwa dukungan Yasop dan teman-teman seangkatannya terhadap pencapaian akademik mungkin tidak sepenuhnya sama dengan yang ia bayangkan akan diperoleh di sekolah lain. Namun, pengembangan karakter menjadi salah satu hal yang paling ia hargai dari pengalamannya di Yasop.

“Ketika seseorang ingin berkembang, dia akan mencari cara untuk berkembang. Selain itu di Yasop sendiri, dengan uang asrama yang sedemikian dan benefit yang didapatkan – it's really good enough.”

Setahun di Asrama Yasop, Dua Tahun di Rumah: Proses pembelajaran di masa pandemi COVID-19

Ada satu hal yang cukup menarik ketika penulis menanyakan narasumber tentang kehidupan berasrama yang dilalui oleh narasumber. Sebagai angkatan pandemi, proses kehidupan di Asrama Yasop seperti yang biasa diromantisasikan oleh para Paryasop tidak terlalu terasa pada angkatan 30, mengingat pandemi yang memberikan mereka kesempatan untuk menjalankan kehidupan berasrama hanya dalam waktu 1 tahun. Dua tahun berikutnya, mereka menghabiskan sebagian besar waktu belajar dari rumah secara daring.

“Di sma itu orang orang masih labil, masih banyak yang belum menemukan esensi belajar, jadi dedikasi belajar menurun. Tapi karna dengan diperhatikan asrama, itu hal yang membantu. Dan yang aku perhatiin, guru guru di sini berbeda, but their difference is in a good way.”

Meski demikian, pengalaman selama berada di asrama tetap meninggalkan kenangan tersendiri. Menurutnya, perhatian dan pengawasan dari lingkungan asrama membantu siswa mempertahankan kedisiplinan untuk belajar. Pada masa SMA, ketika banyak remaja masih mencari motivasi dan memahami esensi belajar, perhatian semacam itu dapat menjadi faktor yang membantu mereka tetap bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran.

Di tengah motivasi belajar banyak siswa yang menurun saat pandemi, Pucci tetap konsisten mengejar targetnya: masuk ITB. Konsistensi itu membuahkan hasil, ia meraih juara umum pada 2021 dan 2022, saat kelas XI dan XII.

“Aku sadar aku suka belajar, dan aku juga pengen mencapai goal. Goalku adalah salah satu PTN, yaitu ITB. Untuk mencapai goal itu enggak gampang, so I decided to work hard,”

Maunya ke ITB, Eh, Malah Meleset ke Taiwan

Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi membuat Pucci mulai memikirkan berbagai kemungkinan setelah lulus SMA. Terlebih, kedua orang tuanya telah memasuki masa pensiun. Ia menyadari bahwa kondisi finansial keluarga perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan pendidikan selanjutnya.

“Jadi pas aku SMA, orangtuaku udah pensiun. Karna aku tau finansial orangtuaku udah concern, jadi aku mulai cari beasiswa. Pas kelas 3 aku udah cari-cari beasiswa.”

Karena itu, sejak kelas XII, Pucci mulai mencari informasi mengenai berbagai program beasiswa. Salah satu yang pertama ia ikuti adalah Beasiswa Paryasop. Ia juga mencoba program beasiswa UOFT Kanada. Awalnya, Pucci tidak terlalu yakin dengan peluangnya. Namun, ia tetap mencoba untuk mengukur kemampuannya. Ia berhasil melewati tes yang diikutinya, meskipun setelah itu tidak memperoleh kabar mengenai kelanjutan proses seleksi tersebut.

Kesempatan lain datang melalui Beasiswa Maju, program beasiswa yang dibangun oleh Bapak Luhut Binsar Panjaitan dan Prof.Yohanes Surya. Ia mengikuti proses seleksi yang dimulai dari tes di rumah, kemudian berlanjut ke tahap seleksi di SMA Unggul Del bersama peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Dari proses tersebut, Pucci berhasil terpilih setelah melalui tahap wawancara.

Program beasiswa tersebut membuka kesempatan baginya untuk mendaftar ke berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Pucci pun mencoba berbagai pilihan. Dalam memilih universitas-universitas tersebut, beliau juga mempertimbangkan rangking dan akreditasi di universitas-universitas terkait. Ia mendaftar ke sejumlah universitas di Australia, Taiwan, hingga Netherland dan berhasil memperoleh penerimaan. Ia juga lolos SNMPTN di ITB yang sejak awal menjadi impiannya. Dari semua pilihan itu, Taiwan terasa paling realistis dari sisi biaya hidup, dengan peluang kerja sambilan dan potensi bisnis di kawasan Asia Timur yang menurutnya menjanjikan.

“Setelah concern panjang, jika ngelihat biaya hidup paling baiknya di Taiwan. Aku ngerasa mungkin masih bisa kerja sambilan dan menuhin biaya hidup kalau ga dikasih uang saku sana . Selain itu aku melihat bisnis development di Asia Timur itu bagus banget. Disini sangat maju dan adaptif dengan teknologi, dan mungkin dalam 5-10 tahun lagi negara superpower itu bukan amerika, tapi china.“

Beasiswa Maju yang diperolehnya juga memberikan dukungan yang cukup lengkap, mulai dari persiapan IELTS, biaya pendidikan, tempat tinggal, uang saku, hingga kebutuhan makan. Dukungan tersebut membuatnya dapat menjalani pendidikan tanpa harus terlalu dibebani kekhawatiran mengenai kebutuhan dasar selama studi.

Dari Indonesia ke Taiwan serta Dukungan Penuh dari Keluarga

Dukungan orang tua turut menjadi bagian penting dalam keputusannya. Berasal dari Sidikalang, sebuah daerah kecil di pegunungan, Pucci menyadari bahwa kesempatan untuk belajar di luar negeri merupakan pengalaman besar bagi dirinya dan keluarga.

Namun, orang tuanya memberikan kepercayaan untuk melanjutkan keinginannya selama ia bersedia bertanggung jawab atas keputusan tersebut.

“Selama kamu bisa bertanggung jawab, ya sudah, lanjut saja terus,” demikian pesan yang selalu ia ingat dari orang tuanya.
Pucci bersama keluarga di hari wisuda sarjananya di Taiwan

Dua Tahun untuk Merasa di Rumah: Bahasa Baru, Budaya Berbeda, dan Keberanian untuk Bertahan di Taiwan

Penulis kemudian bertanya tentang bagaimana proses adaptasi narasumber ketika pindah ke Taiwan yang kemudian dijawab “Selama masuk kesini, awalnya aku udah tau aku bakal struggle. Jadi at first aku accept aku bakal struggle.”

Pada awal kedatangannya, kemampuan bahasa Inggrisnya masih terbatas, sementara ia belum menguasai bahasa Mandarin sama sekali. Kondisi tersebut membuat komunikasi sehari-hari menjadi tantangan tersendiri. Ia kerap menghadapi situasi ketika orang lain berbicara kepadanya dalam bahasa yang belum ia pahami.

“Pas aku nyampe kesini, bahasa inggrisku ga bagus, my chinese is zero. Bahkan setelah aku tau sekarang, ternyata dulu banyak orang yang marahin aku tapi aku ga sadar karna aku gak paham apa yang mereka bicarain, dan banyak regulasi tidak tertulis yang setiap hari ternyata aku langgar tanpa kusadari.”

Pengalaman-pengalaman tersebut sempat membuatnya putus asa. Ia bahkan pernah bertanya kepada dirinya sendiri apakah lebih baik berhenti dan kembali ke Indonesia. Namun, ia kembali mengingat pesan orang tuanya. Keputusan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri merupakan pilihannya sendiri, sehingga ia merasa perlu bertanggung jawab dan menepati komitmen tersebut.

“Aku sempat putus asa juga, apakah aku better stop dan pulang ke indo aja? ada perasaan-perasaan itu, tapi aku keingat pesan ortu untuk mempertanggungjawabkan apa yang udah aku mulai, so i keep my promise. Aku stay disini, dan makin kelamaan aku bisa menyesuaikan.”

Pucci akhirnya memilih bertahan dan mulai belajar menyesuaikan diri. Ia mempelajari bahasa Mandarin dari nol, memahami cara berkomunikasi dengan masyarakat setempat, serta berusaha mengenali kebiasaan dan budaya yang berlaku di Taiwan.

Proses adaptasi itu tidak berlangsung secara instan. Menurutnya, dibutuhkan sekitar dua tahun hingga ia mulai merasa benar-benar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Seiring waktu, ia mulai memiliki banyak teman dari Taiwan maupun negara lain.

Pucci saat berada di Taipei, Taiwan
“Aku yang datang ke negeri mereka, jadi harus aku yang menyesuaikan, bukan malah mereka yang nyesuaiin ke aku,” ungkapnya.

Selain bahasa, Pucci juga merasakan perbedaan budaya akademik dan etos kerja yang cukup signifikan. Ia melihat bahwa di Indonesia, penggunaan sapaan seperti Profesor, Sir, Miss, atau Ma'am merupakan bentuk penghormatan yang lazim digunakan ketika berinteraksi dengan pengajar. Sementara itu, di Taiwan, ia menemukan kebiasaan yang berbeda, termasuk penggunaan nama secara langsung untuk memanggil profesor.

Ia juga melihat adanya perbedaan dalam sistem pendidikan. Menurut pengamatannya, mahasiswa di Taiwan telah diperkenalkan pada pemrograman dan coding sejak tingkat sekolah menengah pertama. Sementara itu, pengalaman pendidikan yang ia peroleh sejak SD hingga SMA di Indonesia tidak banyak memberinya kesempatan untuk mempelajari coding. Akibatnya, ketika memasuki semester pertama perkuliahan, ia sudah dihadapkan pada tugas-tugas teknis, seperti pemrograman sensor.

Di samping itu, Pucci merasakan bahwa standar etos kerja di lingkungannya sangat tinggi. Ia yang merasa bukan orang malas pun terkadang merasa belum cukup produktif jika dibandingkan dengan workflow lingkungannya.

Berbagai perbedaan tersebut menuntutnya untuk terus belajar. Ia tidak hanya harus meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga memahami lingkungan, mengembangkan keterampilan baru, dan menyesuaikan cara kerja.

Setelah melewati proses tersebut, Pucci berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya dalam empat tahun. Salah satu momen yang berkesan baginya adalah ketika orang tuanya datang ke Taiwan untuk menghadiri kelulusannya. Pencapaian itu menjadi hasil dari perjalanan panjang yang diwarnai usaha, adaptasi, dan ketekunan.

Lulus Sarjana membawa gelar BSc, Lanjut menempuh Magister (S2)

————— Pucci dan tim dalam kegiatan riset di NTU

Menyelesaikan pendidikan sarjana bukan berarti perjalanan belajar Pucci berhenti. Ia justru memutuskan untuk melanjutkan pendidikan magister di universitas yang sama, yaitu National Taiwan University (NTU), melalui Department of Civil Engineering (NTUCE), dengan bidang Computer-Aided Engineering.

Untuk melanjutkan studi S2, Pucci kembali memperoleh dukungan beasiswa. Kali ini, pendanaannya berasal dari universitas dan profesor, bukan dari LPDP. Ia juga menjalankan peran sebagai research assistant dalam pengembangan riset di bidang yang sedang ia tekuni.

Riset tidak jadi bagian dari masa S1-nya; ia hanya perlu menyelesaikan SKS yang disyaratkan. Riset justru mulai terasa saat ia menjadi research assistant di S2. Pada musim panas ini, Juli hingga Agustus, ia terlibat dalam proyek semantic digital twin: membuat model 3D sebuah gedung sesaat setelah proses pembangunannya rampung (as-built), yang kemudian dipakai untuk kebutuhan facility management. Salah satu penerapannya: sensor yang mendeteksi orang di dalam ruangan dan otomatis menyalakan AC, demi efisiensi energi.

Pucci menjelaskan riset yang tengah ia kerjakan
Pucci bersama tim dalam kegiatan riset

Riset lanjutannya ia arahkan ke publikasi jurnal bertaraf Scopus, mengembangkan topik yang ia sebut symbolic guided degeneration, yaitu membangun model bahasa (LLM) yang difokuskan pada permasalahan bangunan. LLM ini akan men-generate masalah, lalu menyelesaikannya sendiri. Pucci menegaskan bahwa ia tidak membangun model dari nol; LLM di sini berfungsi untuk melakukan pengecekan ulang (recheck).

Pucci memilih topik ini setelah profesornya mengikuti The 43rd International Symposium on Automation and Robotics in Construction (ISARC 2026) dan berhasil menang. Dari sana, ia meminta izin kepada pembimbingnya, seorang kandidat PhD, untuk belajar langsung darinya, hingga akhirnya menemukan topik turunan dari semantic digital twin yang kini ia kembangkan.

Pucci bersama profesornya di hari wisuda

Keputusan untuk melanjutkan studi didasari oleh beberapa pertimbangan. Pucci melihat bahwa persaingan di dunia kerja semakin ketat, sementara jumlah lulusan sarjana semakin banyak. Ia ingin memiliki kompetensi yang lebih mendalam agar dapat meningkatkan daya saingnya.

Selain itu, ia merasa kemampuan yang dimilikinya saat ini masih perlu dikembangkan. Kesempatan yang diberikan oleh universitas untuk melanjutkan pendidikan, ditambah dukungan beasiswa, menjadi alasan lain yang mendorongnya untuk mengambil kesempatan tersebut.

Pucci juga melihat bahwa di Taiwan, kualifikasi pendidikan magister dapat membuka peluang yang lebih luas untuk pekerjaan di bidang teknik. Karena itu, ia memandang studi S2 bukan sekadar tambahan gelar, melainkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan dan mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan industri.

Di sela-sela studi, Pucci tetap berusaha memikirkan keberlanjutan finansialnya. Ia berencana memanfaatkan masa libur musim panas untuk mengikuti program magang, sekaligus membangun cadangan uang dari beasiswa yang diterimanya.

Meskipun kini melanjutkan pendidikan di Taiwan, Pucci tetap memiliki rencana untuk kembali ke Indonesia. Kendati demikian, untuk saat ini ia mempertimbangkan kesempatan berkarier di CTCI, perusahaan konsultan teknik dan konstruksi di Taiwan. Ia berharap pengalaman tersebut dapat memperluas pemahamannya mengenai industri konstruksi dan memberinya bekal yang bermanfaat untuk perjalanan karier berikutnya.

Di luar rencana kariernya di bidang konstruksi, Pucci juga menyimpan mimpi jangka panjang: membangun sebuah platform edukasi daring gratis dalam 10 hingga 20 tahun ke depan, agar anak-anak dengan keterbatasan finansial, seperti dirinya dulu, tetap bisa mengakses pendidikan berkualitas. Di sisi lain, ia juga membayangkan mendirikan firma konsultan untuk bidang bangunan.

Gravitasi Tak Bisa Dilawan, Langkah Tak Boleh Berhenti

Jika melihat kembali perjalanan yang telah dilaluinya, Pucci menyadari bahwa pencapaiannya saat ini tidak diraih dengan mudah. Ia berasal dari Sidikalang, sebuah daerah kecil di pegunungan, dengan keterbatasan akses internet yang pernah menjadi bagian dari kesehariannya. Ia juga bukan seseorang yang selalu merasa unggul atau percaya diri ketika harus menghadapi tantangan baru.

Pucci adalah satu dari lima bersaudara. Ayahnya pegawai honorer, ibunya seorang guru biasa. Dulu, bermimpi untuk terbang ke luar negeri terasa seperti sesuatu yang menakutkan dan jauh dari jangkauan baginya. Namun ia memilih tetap bermimpi setinggi mungkin, sebab kalaupun jatuh, ia akan jatuh di antara bintang-bintang.

Ada saat-saat ketika ia merasa inferior, terutama ketika berada di lingkungan yang menuntut kemampuan dan standar kerja yang lebih tinggi. Namun, ia memilih untuk tidak membiarkan perasaan tersebut menentukan langkahnya. Dalam menghadapi berbagai kesulitan, Pucci tidak ragu meminta nasihat dari teman-teman seangkatan, senior, maupun adik kelas. Baginya, belajar dari pengalaman orang lain juga menjadi salah satu cara untuk menemukan jalan keluar ketika menghadapi hambatan.

"Ada satu slogan yang aku pegang sampai sekarang: Aku selalu percaya tuhan gak bakal bawa kita sejauh ini untuk gagal."

Pucci juga memiliki cara pandang yang unik tentang kehidupan. Ia mengibaratkan tantangan hidup seperti gravitasi. Gravitasi tidak mungkin dihindari begitu saja, sebagaimana tantangan tidak mungkin dihilangkan sepenuhnya dari kehidupan. Karena itu, yang dapat dilakukan adalah belajar menghadapinya. Menurutnya, ketika seseorang merasa inferior atau tidak yakin terhadap kemampuannya, ada dua pilihan yang bisa diambil: mundur dan berisiko menyesali keputusan tersebut, atau tetap maju meskipun harus menghadapi berbagai kesulitan. Pucci memilih untuk terus maju. Bukan karena ia tidak takut gagal, melainkan karena ia menyadari bahwa berhenti mencoba juga memiliki konsekuensinya sendiri.

Melalui pengalamannya, Pucci ingin menunjukkan bahwa kesempatan untuk berkembang tidak hanya dimiliki oleh mereka yang sejak awal memiliki banyak keunggulan. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk mencapai mimpinya selama bersedia berusaha, mencari peluang, dan menghadapi tantangan yang muncul di sepanjang perjalanan. Perjalanannya dari Yasop hingga Taiwan menjadi pengingat bahwa mimpi tidak selalu terwujud melalui jalan yang telah direncanakan sejak awal. Ada kemungkinan untuk menghadapi keterbatasan, mengalami kegagalan, atau menemukan kesempatan yang berbeda dari harapan semula. Namun, selama seseorang bersedia belajar dan terus melangkah, perjalanan itu tetap dapat membawanya menuju sesuatu yang berarti.

“Untuk adik-adik kelas yang baru lulus Yasop: Hanya  pendidikan dan ilmu lah yang bisa mengubah nasib seseorang.  Dan pendidikan dan ilmu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa direnggut dari seseorang.”

Penulis: Lampita Ulibasa Pangaribuan (Yasop 29 – Ingenium)

Narasumber: Finansia Pucci Purba (Yasop 30 – Xeperium)