Akademi Imigrasi24 Oktober 2026Ismail Joy Tiurman Tampubolon9 menit baca

Gogo Ni Tangiang: Doa yang Mengantar Joy Tampubolon ke Tarakan

Ismail Joy Tiurman menjalani seleksi taruna imigrasi sendirian, menyembunyikannya dari orang tua selama berbulan-bulan demi melindungi mereka dari kecemasan. Kisah tentang keberanian mengaku, doa ibu, dan jalan panjang menuju karir sebagai Petugas Imigrasi di Tarakan.

Gogo Ni Tangiang: Doa yang Mengantar Joy Tampubolon ke Tarakan
Kalau sayang sama orang tua, semua hal sekecil apapun pasti langsung diceritakan. Tidak ada yang disembunyikan, apalagi soal masa depan sendiri.

Anggapan itu terdengar wajar, bahkan ideal. Tapi bagi Ismail Joy Tiurman Tampubolon, kasih sayang kepada orang tua justru yang membuatnya memilih diam untuk sementara waktu. Selama berbulan-bulan, Joy, alumni Yasop yang kini berkarya sebagai Petugas Imigrasi dan akrab disapa dengan nama tengahnya itu, menanggung sendiri satu perjuangan besar sebelum akhirnya membagikannya kepada orang yang paling ia hormati di dunia. Bukan karena tidak percaya, melainkan karena ia belum siap membuat ibunya ikut menanggung cemas atas sesuatu yang hasilnya pun belum pasti.

Joy punya kepribadian unik dan menyenangkan, dengan tekad kuat dan keyakinan yang tidak goyah akan mimpinya sedari SMA. Namun kenyataan di dunia setelah asrama tidak selalu menyenangkan. Ia harus melewati fase pergumulan dan mempertanyakan jati dirinya yang sebelumnya telah tercetak kokoh, sampai akhirnya ia menemukan celah dari tembok keraguannya sendiri. Dan dengan berbekal doa ibu yang baru ia minta belakangan, bukan sejak awal, Joy sukses menyelesaikan pendidikan di Akademi Imigrasi dengan hasil dan cerita pengalaman yang berwarna.

Yasop: Apa yang Dimulai Harus Diakhiri

Tidak ada perjalanan tanpa ujung, tidak ada usaha yang akan mengkhianati hasil. Berbekal keyakinan itu, Joy memiliki tekad untuk menjadi seseorang yang berguna bagi nusa dan bangsa sejak usia sekolah menengah. Masuk ke asrama Yasop adalah salah satu jalan Tuhan yang sebenarnya juga tidak ia sangka, dan mengejutkannya cukup membuka lebar mata dan hatinya. Karakter yang kokoh benar-benar ditekankan oleh pengurus asrama dan founding father Yayasan Soposurung, opung TB. Slogan 'creme de la creme' selalu memberi sinyal kepada para siswa untuk terus berusaha dan berusaha lagi, menanamkan satu keyakinan yang kelak akan diuji berkali-kali: bahwa usaha yang sungguh-sungguh pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.

"Ya, pastinya sama seperti ribuan anak laki-laki di tahun itu, aku juga memiliki cita-cita sebagai seorang yang mengabdi kepada negeri, kalau bisa," ungkapnya.

Tapi cita-cita itu tidak datang dengan jalan yang mulus. Berkali-kali ia mencoba jalur tes sebagai abdi negara, dan berkali-kali pula ia harus menelan kekecewaan yang sama. Satu demi satu kesempatan lewat begitu saja, seakan dunia belum merestuinya menjadi seseorang yang berseragam. "Pastinya sedih. Gimana lah merasakan sebagai orang yang gagal. Tapi syukurnya banyak hal yang mengingatkanku bahwa kehidupan tidak hanya sampai situ saja."

Joy bersama teman seangkatan (Ingenium 29) yang berasal dari Riau

Kalau Ada Orang yang Harus Bertanggungjawab Akan Masa Depanku: Akulah Orangnya

Berangkat dari latar belakang keluarga yang sederhana, Joy, sebagai anak pertama laki-laki, terbiasa menjadi tumpuan keluarganya secara emosional sejak kecil. Tanpa perlu diucapkan, ia tahu posisinya: orang yang harus kuat lebih dulu sebelum orang lain di rumah ikut khawatir. Hal itu membentuk karakternya yang bertanggung jawab dan pantang menilai rendah dirinya sendiri. "Kalau bukan aku, ya siapa lagi," kalimat itu selalu terngiang dan menjadi dasar baginya dalam mengambil keputusan, dari hal sederhana sampai hal yang cukup rumit.

"Ya, nama metodenya mungkin substitusi, secara ilmiah. Contohnya dulu, aku mungkin biasa saja dalam akademik. Pasti ada mindernya, merasa tidak berguna. Tapi syukurnya hal itu tidak tinggal lama. Aku menemukan bahwa aku baik dalam bersosialisasi dan berorganisasi. Jadi nekat lah. Awalnya coba jadi ketua kelas, lalu memberanikan diri mencalonkan jadi ketua senat. Puji Tuhan terpilih, dan kepercayaan diriku kembali," kenangnya.

Kepercayaan diri itulah yang ia bawa ketika euforia masa sekolah selesai dan ia harus menggores garis baru sebagai manusia dewasa muda. Joy lolos ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri, salah satu dari banyak alumni Yasop yang berhasil menembus jalur itu. Tapi mimpinya sebagai abdi negara belum padam sedikit pun, hanya bersembunyi di balik rutinitas kuliah yang tampak biasa saja dari luar. Di sela jadwal kuliahnya di tahun covid, ketika sebagian besar orang menghabiskan waktu di rumah menunggu keadaan membaik, Joy justru diam-diam kembali melatih disiplin diri, secara fisik maupun akademik, untuk sesuatu yang bahkan belum ia ketahui bentuknya. Tidak ada jadwal resmi, tidak ada target yang jelas, hanya satu keyakinan yang ia pegang erat setiap kali keraguan datang. "Aku hanya percaya bahwa aku harus berusaha lebih lagi, dan sisanya pasti Tuhan sediakan."

Joy bersama teman seangkatannya (Ingenium 29) saat bimbingan masuk perguruan tinggi

Rahasia yang Disimpan Rapat-rapat

Pengumuman pembukaan calon siswa taruna imigrasi menyebar dengan cepat. Joy, mahasiswa zaman covid yang berbekal tekad dan latihan rumahan rutin, ikut merasakan adrenaline rush yang sama dengan ribuan pelamar lain di seluruh Indonesia. Semangat, gelisah, dan takut berbaur jadi satu perasaan yang sulit ia jelaskan bahkan pada dirinya sendiri. "Awalnya ragu memang, tapi ya dalam nama Yesus ajalah," ucapnya, lalu memulai pertarungannya.

Yang tidak diketahui siapapun di rumah, Joy memilih menjalani seluruh proses itu sendirian, tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Setiap formulir yang ia isi, setiap tahap yang ia lewati, setiap malam ia berlatih sambil menahan kantuk setelah seharian kuliah daring, semuanya terjadi di bawah radar orang-orang yang paling ingin ia buat bangga. Jatuh bangunnya selama berbulan-bulan hanya ia curahkan kepada teman-teman asrama satu atap di perantauan, khususnya penghuni Lenko, kost tempat para alumni Yasop 29 tinggal saat merantau ke Medan untuk pematangan akademik di masa pandemi. Merekalah saksi pertama. Mereka yang menampung cerita gagalnya, yang mendengar keluhan tengah malam, yang menyaksikan ia berlatih diam-diam tanpa ada yang bisa memastikan hasilnya akan seperti apa. Bagi orang tuanya sendiri, Joy masih sekadar anak laki-laki yang sedang kuliah biasa di universitas negeri, sebuah gambaran yang sengaja ia jaga rapi supaya mereka tidak ikut cemas sebelum waktunya.

Chaos dan bentrok antara urusan kampus dan tahapan seleksi terus menghadapkannya pada persimpangan sulit, memaksanya memilih salah satu di setiap kesempatan yang berbenturan. Bayangan gagal dan beribu risiko menghantui pikirannya bukan karena takut dicap pecundang, melainkan karena ia tidak ingin orang tuanya ikut berharap pada sesuatu yang belum tentu terwujud. Lebih baik mereka tidak tahu sama sekali daripada tahu lalu kecewa dua kali, pikirnya saat itu. Sampai suatu hari biasa, di tengah kelelahan yang sudah menumpuk, sebuah pesan sederhana mengubah segalanya.

"Semuanya itu hilang, ketika aku dikirimi pesan 'Selamat Hari Minggu' dari mamakku. Senyuman itu, aku mau melihatnya lagi dengan versi yang lebih sumringah. Aku tidak boleh goyah demi mereka. Inongku, Amongku, na pinarsangapan," ucapnya dengan mata berkaca-kaca, mengulang kalimat itu seolah masih merasakan getarannya sampai sekarang.

"Setiap aku mau menyerah, aku ingat senyuman mamak yang selalu hangat. Setiap aku lelah dan hampir terlena, aku teringat bapak yang selalu gigih bekerja di ladang."

Pengakuan

Sampai pada tahap seleksi yang mengharuskan ia hadir langsung, jarak yang selama ini ia jaga antara dirinya dan orang tuanya tidak bisa lagi dipertahankan. Rahasia itu, yang awalnya terasa seperti bentuk sayang, perlahan berubah menjadi beban yang ingin segera ia lepaskan. Ia merasa rumpang akan doa ibu yang selama ini belum sempat ia minta secara langsung, sebuah doa yang justru paling ia butuhkan di titik paling menentukan.

Dengan keberanian yang sama yang pernah membawanya maju mencalonkan diri sebagai ketua senat, Joy akhirnya duduk berhadapan dengan ibunya, dan untuk pertama kalinya menceritakan semuanya. Bukan hanya soal seleksi taruna imigrasi yang sedang ia jalani, tapi juga soal berbulan-bulan ia berlatih sendirian, soal rasa takut yang ia tahan sendiri, dan soal alasan kenapa ia memilih diam selama ini.

Apa yang terjadi setelahnya mungkin sudah bisa ia prediksi, tapi kali ini melesat jauh dari bayangannya. Tangis haru, bangga, dan kekesalan yang tidak dapat didefinisikan bercampur jadi satu dari sang ibu, seakan menyentil sekaligus menghangatkan suasana hati Joy di saat bersamaan. "Sepertinya mamakku ini masih menganggap aku anak kecil yang iya-iya aja, makanya dia kaget waktu diberitahu. Katanya sih beliau tidak menyangka bahwa aku bisa senekat itu. Tapi dia bangga dan akan tetap selalu mendukung." Dan di momen itulah, doa yang selama berbulan-bulan hanya ia panjatkan sendiri di kamar kost, akhirnya punya rekan seiring, orang tua yang kini tahu dan ikut berjuang dalam diam bersamanya.

Menempa Diri di Akademi

Lolos seleksi ternyata baru permulaan. Pendidikan di Akademi Imigrasi menuntut disiplin yang jauh berbeda dari kehidupan kuliah yang selama ini ia jalani. Rutinitas yang ketat, latihan fisik yang menguras tenaga, dan aturan yang tidak memberi banyak ruang untuk mengeluh, semuanya harus ia lalui jauh dari rumah dan dari lingkaran teman-teman Lenko yang biasa menampung ceritanya.

Namun bagi Joy, pola seperti ini bukan hal yang sepenuhnya asing. Yayasan Soposurung, asrama tempat ia menghabiskan masa SMA, menerapkan sistem yang semi militer, dengan disiplin ketat, jadwal padat, dan tuntutan untuk selalu siap menghadapi tekanan tanpa banyak mengeluh. Fondasi itu rupanya tidak hilang begitu saja setelah ia lulus. Kalau dulu ia bisa pulang ke kost dan bercerita panjang lebar setelah hari yang berat, kini ia harus belajar menenangkan diri sendiri di tengah jadwal yang padat dan pengawasan yang tidak pernah longgar, sebuah ritme yang sebenarnya sudah ditempa sejak bertahun-tahun sebelumnya di asrama Yasop.

Masa-masa ini juga yang menguji apakah tekad yang ia bawa sejak masih diam-diam berlatih di kamar kost benar-benar cukup kuat untuk bertahan sampai akhir. Bedanya, kali ini ia tidak lagi berjuang sendirian dalam arti sebenarnya. Doa ibu yang baru saja ia dapatkan restunya menjadi bekal yang terus ia ingat setiap kali lelah mulai terasa, pengingat bahwa ada orang di rumah yang kini tahu perjuangannya dan menunggu dengan harap-harap cemas yang sama. Satu demi satu tahap pendidikan ia lewati, dengan karakter kokoh yang sudah terbentuk sejak masa Yasop sebagai modal utamanya, sampai akhirnya tiba hari kelulusan yang dulu sempat terasa begitu jauh dan tidak pasti.

Joy lulus pendidikan di Akademi Imigrasi

Ikhtiar yang Berbuah

Tancap gas dari momen itu, slogan 'gogo ni tangiang' tidak pernah ingkar. Joy, yang awalnya hanya seorang mahasiswa biasa dengan rutinitas seadanya dan masa depan yang masih abu-abu, berhasil lolos menjadi siswa di Akademi Imigrasi. Mengejar prestasi dan kenangan wangi, hingga saat ini ia berkarir sebagai Petugas Imigrasi di Tarakan, Kalimantan Utara, sebuah tempat yang bahkan tidak pernah terbayang olehnya ketika masih diam-diam berlatih di kamar kostnya dulu, jauh dari rumah, jauh dari restu yang belum ia minta.

Joy selalu menekankan bahwa segala hal yang terjadi semakin membuatnya bersyukur dan ingin mencoba lebih lagi.

"Everything happens for a reason. Tinggal kita yang harus pintar-pintar memakai kacamata. Harus tahu kapan nekat, tahu kapan berserah. Tapi jangan salah, berserah bukan berarti menyerah, lho ya!" ucapnya dengan tawa dan senyum sumringah khas Joy.

Kini, setiap kali ia mengenakan seragam dan bertugas di perbatasan negeri jauh dari kampung halaman, Joy teringat satu hal. Bukan tentang gelar atau jabatan, melainkan tentang sepucuk pesan "Selamat Hari Minggu" yang pernah menahannya untuk tidak menyerah, dan tentang doa seorang ibu yang akhirnya ia bawa sampai ke garis akhir. Baginya, status sebagai anak pertama bukan sekadar urutan kelahiran, melainkan tanggung jawab untuk menjaga orang tua tetap tenang sekuat apapun ia sendiri bergumul di dalam. Dan ketika akhirnya ia berhasil, rasa bangga itu bukan hanya miliknya sendiri, melainkan juga milik ibu dan bapak yang doanya ikut menuntun setiap langkahnya sampai ke Tarakan di pulau Kalimantan.

Penulis: Yoana Tabitha P Sitinjak (Yasop 29)