Lien Jacky Sitorus, alumni Paryasop Angkatan XXIII-Etenier asal Sihiong, Kabupaten Toba, belajar musik secara mandiri sejak SMP. Dari seruling paralon, gitar seadanya, dan laptop bekas, ia membangun LJ Studio di Bandung dan mengerjakan proyek untuk klien dari Amerika Serikat, China, Malaysia, dan Australia.

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk menemukan jalan hidupnya. Ada yang sejak awal telah mengetahui apa yang ingin dicapai, ada pula yang harus melewati berbagai persimpangan sebelum akhirnya menemukan sesuatu yang benar-benar ingin diperjuangkan. Bagi sebagian orang, minat mungkin hanya menjadi kegiatan pengisi waktu luang. Namun, bagi orang lain, minat justru dapat menjadi alasan untuk terus bertahan, bahkan ketika keadaan tidak selalu memberikan banyak pilihan.
Kisah kali ini datang dari salah satu alumni Paryasop, Lien Jacky Sitorus, Alumni Angkatan XXIII-Etenier. Perjalanannya tidak dimulai dengan fasilitas yang lengkap ataupun kesempatan yang selalu terbuka. Berasal dari Sihiong, Kabupaten Toba, Lien tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Namun, di tengah berbagai keterbatasan tersebut, ia menemukan satu hal yang terus ia pegang: musik.
Dari pengalaman belajar musik secara mandiri, membuat alat musik dari barang-barang sederhana, hingga akhirnya membangun LJ Studio dan menghasilkan karya yang menjangkau berbagai negara, perjalanan Lien memperlihatkan bagaimana sebuah ketertarikan dapat berkembang menjadi jalan hidup. Lebih dari sekadar cerita tentang keberhasilan dan mimpi di industri musik, kisahnya juga berbicara tentang ketekunan, orang-orang yang hadir untuk membantu, dan keberanian untuk terus mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Panjang perjalanan yang udah terjadi sebelum aku sampai di saat ini dek.” Ungkap Lien.
Sebelum mengenal kehidupan di Yasop, Lien tumbuh di Sihiong, Kabupaten Toba. Kehidupan keluarganya tidak selalu mudah. Ia kehilangan ayah ketika masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Kondisi ekonomi keluarga juga membuat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah yang jauh dari kampung halaman terasa seperti sesuatu yang sulit dijangkau.
Pada awalnya, Lien bahkan tidak pernah benar-benar membayangkan dirinya untuk bersekolah di Yasop. Biaya pendidikan dan kebutuhan hidup menjadi pertimbangan besar bagi keluarganya. Namun, seperti sebuah takdir, kesempatan itu datang melalui proses seleksi yang diselenggarakan oleh pihak SMP kampung halamannya. Ibu Sitorus, yang saat itu merupakan salah satu guru SMP Lien Jacky mencatatkan namanya untuk ikut tes seleksi sebagai salah satu calon siswa yang direkomendasikan dan membayar uang pendaftarannya, karena beliau tau Lien tidak ikut mendaftar karena tidak bisa membayar uang pendaftaran. Lien kemudian melewati beberapa tahapan, mulai dari tes akademik, tes kebugaran, psikotes, hingga wawancara.
“Ada hal yang dulu selalu jadi benteng buatku, yaitu kemiskinan. Aku ingat sewaktu tes kesamaptaan, aku bahkan gak mau makan, laukku itu Ikan begu. Mamakku udah susah susah masak untukku tapi gak kumakan karna aku malu, jauh berbeda laukku sama kawan kawan lainnya yang dari kota.”
“Aku juga ingat, pulang psikotes dan wawancara, aku dan mamaku singgahlah di balige, berhenti di kedai bakmie Gemar mau makan dan ketemu sama teman-teman lain. Mereka saling pesan seperti biasa, mamaku yang terakhir pesan. Mamaku terus bilang “berapa seporsi?” dijawab 20 ribu atau 40 ribuan pada saat itu. Lalu mamakku bilang mau pesan setengah porsi terus dibagi dua. Ternyata engga bisa, akhirnya keluar aku dan mamakku dari warung bakmie itu, yang lainnya lanjut makan.” Inilah gambaran betapa sedihnya masa itu.
Keterbatasan tersebut juga tergambar ketika pengumuman kelulusan Yasop tiba. Saat itu, sang ibu sedang mambuat gaji di ladang orang, sementara Lien sendiri juga ikut mambuat gaji untuk menambah penghasilan keluarga. Keluarga tidak punya akses untuk berita maupun media informasi. Kabar kelulusan justru datang melalui abang dari Bang Mekar Sinurat, yaitu Bang Darwin Sinurat, yang secara khusus datang ke ladang tempat Lien bekerja,kebetulan tidak jauh dari rumah. Ia menghampiri Lien dan menyampaikan kabar tersebut, “Jacky, kamu lulus ya di Yasop.”
Namun, kabar kelulusan itu tidak serta-merta disambut dengan kegembiraan. Bahkan, Lien sendiri belum merasa antusias untuk masuk Yasop karena masih meragukan kemampuannya untuk bertahan di lingkungan sekolah berasrama dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Setelah mendengar kabar tersebut, ia pun kembali bekerja seperti biasa. Tidak ada perayaan ataupun selebrasi khusus atas kelulusannya.
Kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Yasop akhirnya dapat terwujud berkat bantuan dan dorongan Bang Mekar Sinurat yang terus mendukungnya. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas, pendapatan orang tuanya saat itu hanya sekitar 500 ribu rupiah per bulan dengan 4 anak; biaya pendidikan menjadi sesuatu yang nyaris mustahil untuk dipenuhi. Melihat keadaan tersebut, Lien akhirnya dapat masuk Yasop dengan pembebasan biaya pendidikan. Kesempatan yang awalnya terasa begitu jauh itu pun perlahan menjadi kenyataan, bukan semata-mata karena usahanya sendiri, melainkan juga berkat kepedulian orang-orang yang hadir dan membantunya di tengah keterbatasan. Ia pun mulai memasuki kehidupan asrama dengan segala pengalaman yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Memasuki lingkungan Yasop bukan berarti seluruh perjalanan Lien langsung berjalan mudah. Di tengah teman-teman dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam, ia kerap merasa inferior. Ada banyak hal yang belum ia ketahui, termasuk pengalaman dan referensi yang bagi sebagian teman lainnya mungkin sudah biasa. Perbedaan tersebut membuatnya harus beradaptasi, baik secara akademik maupun sosial.
“Dulu waktu plonco, aku pun merasa inferior disana. Aku ingat dengan sepatu kw ku itu ketika naik ke sibodiala, disitu sol sepatuku udah lepas, padahal baru beberapa hari dipake. Dulu juga pas nonton film Major Penny, dengan Miss Astri di depan mengawasi. Film diputar tanpa subtite. Aku gak ngerti apa apa, kalo ada subtitle Inggris pun pasti gak ngerti, apala parhuta-huta do ahu. Di saat teman-teman lainnya bisa tau film dan bisa ketawa.”
Lien bahkan mengakui dulu selama SMA dia tidak paham arti film The Sound of Music, dan film tersebut baru dapat ia pahami ketika sudah lulus. Di semester pertama Lien juga mengakui bahwa dia tidak mampu mengikuti pace pembelajaran SMA, dia tidak paham aljabar sama sekali. Selalu mendapatkan ranking 20 an dari 30 siswa.
“Aku merasa sangat inferior dulu, aku bahkan gak mengerti makna dari “no one left behind”, karna aku membelakangkan diri.”
Di tengah proses penyesuaian diri tersebut, musik menjadi satu-satunya ruang yang membuatnya merasa lebih nyaman.
“Satu satunya yang kupunya adalah musik. Satu satunya yang bisa aku pertahankan dari inferioritas diriku adalah musik.”
Ketertarikannya terhadap musik sebenarnya telah tumbuh sejak SMP. Ia kerap menghabiskan waktu di gereja pada hari Sabtu malam untuk belajar memainkan keyboard secara mandiri, disaat yang lainnya sudah beristirahat. Bahkan, ketika mengikuti wawancara masuk Yasop, ia sempat menyampaikan bahwa dirinya dapat memainkan organ, drum, gitar, dan alat musik lainnya. Meskipun pengalaman yang dimilikinya saat itu masih sangat minim dan beberapa alat musik yang dia sebutkan bahkan belum pernah ia sentuh seumur hidupnya.
Ketertarikan tersebut kemudian terus berkembang selama berada di asrama. Dengan fasilitas yang sederhana, Lien mulai mencari cara untuk membuat alat musik sendiri. Ia pernah memanfaatkan pipa paralon milik pengawas yang kerap digunakan untuk menindak siswa menjadi sebuah seruling. Ia juga membuat pick gitar sederhana dengan menggunakan sisa botol handbody. Bagi Lien, keterbatasan alat bukan alasan untuk berhenti bermusik. Selama ada sesuatu yang bisa digunakan untuk menghasilkan suara, ia akan mencoba memanfaatkannya, sebagai usaha untuk bertahan dari inferioritas yang dia miliki.
Kemudian mulai di kelas 1 Lien bergabung Tim Musik asrama. pada saat itu Almo Tarigan (XXI) merupakan ketua tim musik pada saat itu. Ada momen dimana Pak Alonso dan Pak Halasan membeli lisensi suatu lagu, lalu meminta tim musik untuk menerjemahkan musik tersebut ke dalam not angka dan not balok.
“Apalah aku parhuta-huta dek, gak paham sama sekali not balok, dan akulah yang paling lama menerjemahkan lagu itu ke dalam not angka, sebelum akhirnya dibantu sama Fina Saragih (XXIII) yang saat itu jadi rekan tim musik juga.”
Lien juga mengingat bagaimana dulu dia kerap melihat salah satu abang kelas Bang Peter Simarmata (XXII) bermain musik setiap kali melewati aula. Mendengarkan permainan beliau dari kejauhan, dan menjadikan momen itu sebagai salah satu motivasi untuk bermain musik di asrama.
“Kelas tiga udah bisa leluasa bermain musik” cetus Lien.
Ketertarikannya terhadap musik juga semakin terlihat ketika ia dipercaya menjadi ketua tim musik saat kelas tiga. Ia sering menggunakan sebagian besar waktunya untuk bermain musik, bahkan ketika teman-temannya sedang melakukan kegiatan lain. Musik menjadi kegiatan yang benar-benar ia tekuni, bukan sekadar aktivitas tambahan di sela-sela kehidupan sekolah.
“Setelah aku kelas 3, kerjaanku main musik terus. Aku jadi ketua tim musik pada saat itu. Disanalah aku banyak main musik. Disaat yang lain IB dan pesiar, aku jam 12 atau selesai gereja udah langsung balik asrama untuk makan siang terus lanjut main musik sampai apel sore. IB juga aku jarang, sangat jarang, dan aku pake buat main musik terus. Dulu aku juga sering sekali nyelundupin gitar, aku bawa ke kamar, ke sekolah, ke medika, di segala kesempatan, walau beberapa kali kena tindak.”
Lingkungan Etenier sendiri turut memberikan ruang bagi ketertarikan tersebut. Kegiatan seni dan musik menjadi bagian dari pengalaman angkatan mereka. Lien dan teman-temannya mengikuti berbagai kompetisi maupun festival musik. Bahkan, ia sering membawa gitar ke sekolah meskipun tidak jarang mendapat teguran bahkan hukuman
Dari pengalaman-pengalaman sederhana tersebut, musik perlahan menjadi bagian penting dalam kehidupan Lien. Ia mungkin belum mengetahui akan membawanya ke mana, tetapi satu hal yang pasti: musik adalah sesuatu yang membuatnya ingin terus belajar.
Tahun 2015 di momen Lien menduduki kelas tiga semester dua, momen ketika persiapan untuk masuk kuliah semakin dekat, disana lah rasa inferior Lien muncul kembali. Teman teman Lien pada saat itu mengikuti berbagai tes, mulai dari tes masuk President University maupun UPH, dan Lien tidak ikut karna tidak berani. Lien mengaku pada saat itu ia tidak yakin akan dapat bertahan di kuliah dengan kemiskinan dan keterbatasan yang dia punya.
“Semuanya pada tes, aku gak ngambil; aku gak berani. Aku gak yakin bisa bertahan di kuliah, karna aku gak punya apa apa. Aku pun kalau belajar di depan teman-teman malu, karna teman temanku tau aku ga pintar, aku juga tidak punya bank soal, kerjaanku futsal dan musik doang. Ketika kawan-kawan lain mungkin udah nulis “Hukum UI” di halaman depan bukunya, aku gak berani menulis apapun, karna aku gak berani bermimpi.”
Meskipun begitu, Lien lolos SBMPTN Pada 2015, ia berhasil lolos ke jurusan Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara (USU) melalui jalur seleksi masuk SBMPTN. Namun, kesempatan tersebut belum sepenuhnya menjadi awal perjalanan kuliah yang berjalan sesuai harapan.
Pada masa kuliah di USU, Lien merasa belum memiliki mentor ataupun sosok yang dapat menjadi role model dalam menjalani kehidupan perkuliahan. Tanpa arah dan pendampingan yang cukup, perjalanan akademiknya di USU akhirnya terbengkalai. Pengalaman tersebut menjadi salah satu fase yang membuatnya harus kembali memikirkan langkah berikutnya.
Pada tahun berikutnya, ia mencoba mengikuti ujian masuk perguruan tinggi sekali lagi. Kali ini, ia berhasil diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2016 dan mendapatkan bidikmisi.
“Bubarlah kuliahku, gak jelas. Tapi kan gengsi ya, semua temanku kuliah di Jawa. Akhirnya tahun depan aku pindah. Ternyata banyak teman yang tes ulang dan pindah kuliah tahun depannya. Tahun 2016 ikut ujian lagi, dan masuk ke FSRD ITB - Seni Rupa Desain. 300 orang terpilih dari sekian ribuan orang. Aku pun pede lagi. Tapi ada satu hal yang aku dapatkan. Ternyata pesimis itu bukan soal pencapaian, karna pada akhirnya aku masih tetap pesimis - dan itu adalah karakterku. Karakter yang aku bawa, dari seorang ibu namabalu yang suka mellow dan anaknya yang sedari kecil melihat itu, itu yang menjadikan karakter anak yang suka merasa inferior.”
Memasuki lingkungan pendidikan yang baru pun bukan berarti seluruh tantangan selesai. Keterbatasan ekonomi dan kurangnya dorongan untuk menuntaskan perjalanan akademik membuatnya tidak berhasil menyelesaikan pendidikan di ITB.
“Di ITB aku bidikmisi, tapi tetap saja perlu cover. Apalagi jurusanku di bagian seni tetap butuh banyak uang untuk beli pensil mahal dengan berbagai jenis, untuk beli sketchbook, kertas, cat dan lainnya. Akhirnya kuliahku gak jelas lagi.”
Masa ini mungkin menjadi salah satu titik terendah Lien. Luntang-lantung di pulau lain, tidak melanjutkan kuliah karena tidak sanggup mengikuti perkuliahan dan segala kebutuhan dasarnya. Sampai beberapa teman-teman Paryasop yang saat itu di ITB menginterogasi Lien tentang kuliahnya. Dan hasil obrolannya dengan teman-teman paryasop sampai ke pihak Yayasan.
“Lalu aku ditelfon Bang Mekar, menyayangkan aku berhenti kuliah. Aku makin merasa kecil sekali. Tapi di satu sisi aku bersyukur karna ternyata alumni memperhatikan, terus aku ditelfon. Sejak itu aku hilang arah. Temanku banyak bantu aku, ajak makan, menumpang di kos mereka, mau traktir walaupun beberapa kali kutolak, mereka sudah membantu terlalu banyak, Aku hilang juga dari keluarga. Sampai mamaku bilang ke adekku “Ngapain sih abangmu itu masih di Bandung, mending dia pulang ke rumah”. Tapi sebagai prinsip orang batak ‘pantang pulang sebelum jadi orang’. Dua Tahun kemudian teman-temanku udah mau pada pisah kos, dan aku pun bingung, karna selama ini tinggal menumpang sama mereka. Tapi salah satu temanku, Leo Sihombing (XXIII) mengajak aku ke kosannya untuk tempat tinggal.
Dua tahun kemudian, teman-teman Lien pun memutuskan untuk pisah kos, Tapi aku masih tetap bergereja, bermusik disana. inilah yang menolong aku untuk tetap berusaha. Aku main musik, dan orang orang bilang aku jago bermain musik.
Masa perkuliahan juga menjadi salah satu periode yang penuh tantangan. Ada saat-saat ketika perjalanan akademiknya tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Dalam situasi tersebut, dukungan teman-teman menjadi hal yang sangat berarti. Beberapa teman bahkan membantu kebutuhan sehari-harinya, termasuk dengan berbagi makanan.
Di tengah situasi tersebut, musik tetap menjadi hal yang ia perjuangkan. Selama perkuliahannya ia masih tetap bergereja dan bermusik di sana. Hal inilah yang menolong Lien untuk tetap berusaha. Lien bahkan mengakui, saat pertama sekali mendapatkan beasiswa, uang beasiswa itu ia gunakan untuk membeli Gitar Yamaha kw seharga 700 ribu rupiah.
“Uang beasiswaku pertama kali aku belikan gitar yamaha KW harganya 700 ribu. walaupun mungkin aslinya 250-300 ribu, tapi karna aku gak punya pengetahuan apapun soal begitu, tapi dengan bangga aku bawa itu kemana mana. Di ITB juga saat oranglain bawa sketchbook, aku tidak punya sketchbook, aku bawa gitar.”
“Aku sangat sering main di gereja, walaupun mungkin aku jadi beban karna gak sejago orang orang kota. Tapi di sini aku ga pernah merasa inferior.”
Ketika bidikmisi di ITB, uang yang ia dapatkan juga ia gunakan untuk beli gitar.
Kalimat tersebut menggambarkan betapa besar ketertarikan Lien terhadap musik. Baginya, musik bukan sekadar hobi yang dapat dilakukan ketika memiliki waktu dan uang lebih. Musik adalah sesuatu yang ingin terus ia kembangkan, meskipun keadaan belum sepenuhnya mendukung, masih bermodal nekat dan ketertarikan yang kuat.
Dengan eksentrisme yang dimiliki oleh Lien dalam bermusik, orang orang pun akhirnya menotis kesukaan dan kemampuan Lien dengan musik. Salah satu momen yang mendorong hal tersebut adalah ketika ia ditawari oleh pihak gereja HKBP Riau Bandung untuk menjadi pengajar remaja untuk Lomba bermusik yaang diselenggarakan satu distrik. Dengan pengajaran dan materi yang diberikan oleh Lien, mereka pun mendapatkan Juara 2. Dan ini menjadi salah satu hal yang menambahkan semangat Lien dalam bermusik.
Kendati demikian, tak sedikit orang orang merasa iba dengan Lien. Seseorang dengan perkuliahan yang terbengkalai, kerjaan hanya bermain musik terus dengan kepolosannya. Mereka memberikan Lien makanan sisa atau makanan lebih untuk dibawa pulang, menawarkan Lien pekerjaan sebagai karyawan kasir di Indomaret maupun pekerja SPBU, yang pada akhirnya selalu ditolak oleh Lien.
“Aku gak sekecil itu. Dan aku gak terima, bahkan ditawarin kerja di indomaret, di SPBU. Bayangin orang yasop ditawarin kerja di indomaret, di SPBU, aku tidak bermaksud merendahkan pekerjaan tersebut ya”
Di tengah keadaan yang tidak selalu mudah, Lien juga pernah mempertimbangkan pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, ia merasa masih memiliki potensi yang perlu dikembangkan. Ia tidak ingin berhenti begitu saja pada pekerjaan yang menurutnya belum sesuai dengan kemampuan yang ingin ia bangun.
“Aku pernah ngobrol dengan seniorku di gereja yang bermusik sebagai drummer, tapi akhirnya menyerah dan buka usaha laundry. Padahal beliau itu dulu adalah suhu permusikan di gereja. Dia bilang ke aku kalau dia menyerah dan akhirnya buka usaha laundry. Dia yang udah suhu permusikan kami aja menyerah dan akhirnya buka laundry, gimana lagi aku yang bias-biasa ini.”
Perjalanan Lien dalam dunia musik tidak berhenti pada kemampuan memainkan alat musik. Ia mulai tertarik mempelajari proses produksi musik, termasuk bagaimana sebuah lagu dapat direkam, disusun, dan diolah hingga menjadi karya yang utuh.
Ketertarikan tersebut semakin berkembang ketika ia terlibat dalam kegiatan musik di gereja. Di sana, ia mulai mengenal proses sequencing dan produksi musik. Seorang senior gereja yang saat itu sedang menjalani kuliah S2 di UNPAD bahkan memberinya sebuah laptop bekas yang kemudian menjadi salah satu alat penting dalam proses belajarnya.
Namun, laptop tersebut tidak selalu berada dalam kondisi baik. Ia seringkali mengalami masalah blue screen dan harus melakukan instalasi ulang dikarenakan sofware musik yang terlalu berat. Dalam proses memperbaikinya, temannya Uios Purba (XXIII) selalu turut membantu. Setelah laptop dapat digunakan kembali, Lien mulai belajar lebih jauh melalui berbagai tutorial di YouTube.
Ia mempelajari proses produksi musik secara mandiri, mencoba berbagai perangkat lunak, dan bereksperimen dengan peralatan yang tersedia. Untuk mulai merekam musik, ia membeli soundcard dengan harga sekitar 100 ribu rupiah. Peralatan tersebut kemudian perlahan ditingkatkan seiring dengan bertambahnya kebutuhan dan kemampuan finansialnya.
Dalam proses belajar itu, ia juga mulai memanfaatkan peralatan gereja untuk merekam gitar dan keyboard dan mengembangkan aransemen musik. Tidak semuanya berjalan dengan mudah. Ada banyak hal yang harus dipelajari sendiri, mulai dari pengoperasian perangkat lunak hingga memahami bagaimana menghasilkan kualitas suara yang lebih baik. Semuanya ia pelajari lewat video youtube.
“Aku gak sengotot itu belajar dulu, tapi untuk musik aku sengotot itu.”
Dari proses belajar yang dilakukan secara bertahap tersebut, Lien mulai menerima berbagai proyek produksi musik. Karya dan kemampuannya semakin dikenal di komunitas musik rohani Kristen. Ia terlibat dalam berbagai proyek sequencing dan aransemen, bahkan mulai memperoleh klien dari luar negeri, seperti Amerika Serikat, China, Malaysia dan Australia.
Dalam beberapa proyek, Lien dipercaya untuk mengerjakan bagian instrumental, termasuk menjalankan peran sebagai produser dan komposer. Ada pula proyek yang melibatkan klien dari luar negeri dan belum dapat dipublikasikan karena masih terikat kerahasiaan. Meski demikian, kesempatan tersebut menjadi bukti bahwa kemampuan yang ia bangun secara mandiri mulai mendapat kepercayaan dari lingkup yang lebih luas.
Permintaan pekerjaan juga meningkat pada periode-periode tertentu, terutama menjelang Natal, ketika banyak gereja dan komunitas membutuhkan sequencing maupun arransement musik untuk berbagai kegiatan.
Perjalanan tersebut tidak dimulai dari sebuah studio besar. Lien merintis pekerjaannya dari kamar kos kecil di daerah Tamansari dengan alat musik bertumpuk di sebagian besar ruangan yang memenuhi
kosnya, hingga saat ini sudah memiliki ruang kerja studio sendiri. Dengan peralatan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, mulai dari alat murah 100 ribuan, hingga alat canggih bernilai puluhan juta. Kepercayaan dari klien, pengalaman mengerjakan proyek, dan penghasilan yang diperoleh kemudian ia gunakan untuk meningkatkan kualitas peralatan produksinya.
Dari ruang sederhana itulah, LJ Studio mulai dibangun.
—————— Berawal dari space musik sederhana di sudut kosan (gambar kiri), hingga studio kerja pribadi (gambar kanan)
Pada 2023, Lien mulai menerima proyek dengan membawa nama LJ Studio. Perjalanannya berkembang melalui kebutuhan pekerjaan, termasuk kerja sama dengan instansi yang membutuhkan dukungan produksi musik sekaligus kelengkapan administrasi. Dari situ, LJ Studio menjadi wadah bagi Lien untuk mengelola proyek-proyek yang diterimanya secara lebih terstruktur.
Link Youtube diskografi kerja Lien Jacky melalui kanal Youtube LJ studio dapat diakses di bawah ini: http://www.youtube.com/@LJ_Studio13
Meski menggunakan nama studio, kegiatan produksinya saat ini masih dikelola secara mandiri. Untuk proyek-proyek personal, Lien mengerjakannya sendiri. Ia juga tidak selalu menyediakan pemain musik karena klien yang datang untuk melakukan rekaman umumnya telah membawa pemain masing-masing. Dalam hal ini, ia lebih banyak menyediakan fasilitas dan peralatan yang dibutuhkan untuk proses rekaman.
Model kerja tersebut menunjukkan bahwa LJ Studio tumbuh mengikuti kebutuhan proyek yang dikerjakan. Tidak harus dimulai dengan tim besar atau fasilitas yang serba lengkap, Lien membangun layanan produksinya secara bertahap, dengan mengandalkan pengalaman, kemampuan teknis, dan peralatan yang terus dikembangkan.
Seiring bertambahnya pengalaman dan proyek yang dikerjakan, Lien juga memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam berbagai karya dan kolaborasi. Ia pernah mengerjakan aransemen untuk Fandi Santoso, vokalis Kerispatih, dalam proyek singel solo rohaninya. Ia juga mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkolaborasi dengan Kak Dewi Guna, Paryasop Angkatan VII.
Selain proyek kolaborasi, Lien turut menciptakan lagu. Salah satunya adalah “Anak Sasada” yang dibawakan oleh Jen Manurung. Karya-karya tersebut menjadi bagian dari perjalanan kreatifnya sebagai produser musik sekaligus penulis lagu.
Meski demikian, tidak semua pekerjaan yang pernah ia kerjakan selalu mencantumkan namanya sebagai bagian dari kredit produksi. Dalam beberapa proyek, terdapat kesepakatan tertentu yang berkaitan dengan royalti maupun pencantuman kredit. Bagi Lien, pengalaman tersebut menjadi bagian dari dinamika bekerja di industri musik, terutama ketika membangun kepercayaan dan hubungan profesional dengan klien.
Di luar pekerjaan komersial, Lien juga tetap memiliki kedekatan dengan komunitas dan almamaternya. Ia pernah terlibat dalam penggarapan Mars dan Himne Paryasop. Keterlibatan tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusinya kepada komunitas yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
“Kek mana pun rankingmu waktu di Yasop Lien, Lagu ciptaanmu-lah yang jadi Mars dan Hymne Yasop”, ujar kak Dewi Guna di sela-sela proses pengerjaan
Ketika pandemi COVID-19 berlangsung,berawal dari ide Melki Hia (XXII) ia turut menginisiasi proyek video musik bersama para alumni. Beberapa karya yang dibawakan dalam proyek tersebut antara lain “One Moment in Time” dan “Heal the World”. Melalui proyek itu, musik menjadi salah satu cara untuk tetap menjaga hubungan dan kebersamaan di tengah keterbatasan aktivitas secara langsung.
Keterlibatannya dalam pelayanan musik di gereja juga terus berlanjut. Ia tidak hanya memainkan musik, tetapi juga dipercaya menjadi music director dalam berbagai acara berskala lebih besar.
Para pembaca mungkin tidak menyadari, tapi Lien merupakan pihak yang memproduksi suara notifikasi aplikasi digital salah satu perbankan terkemuka di Indonesia. Ada kebanggaan tersendiri ketika menyadari bahwa suara yang ia produksi mungkin telah menjadi salah satu suara yang akrab didengar oleh masyarakat di berbagai penjuru Indonesia. Bahkan, suara notifikasi tersebut bisa jadi menjadi suara yang dinanti-nantikan banyak orang pada akhir atau awal bulan, ketika pemberitahuan gaji masuk muncul di ponsel mereka dengan suara Lien
Bagi Lien, pengalaman tersebut bukan semata-mata tentang seberapa besar proyek yang berhasil dikerjakan. Ada kebahagiaan tersendiri ketika sesuatu yang dahulu hanya ia pelajari dengan peralatan seadanya akhirnya dapat menjangkau banyak orang.
“Itu parhuta-huta yang sangat miskin itu, sekarang suaranya didengarkan satu Indonesia,dan mereka bahagia”
Jika melihat kembali perjalanan yang telah dilaluinya, Lien menyadari bahwa pencapaiannya saat ini tidak terlepas dari bantuan banyak orang. Ada keluarga yang memberikan dukungan, teman-teman yang hadir ketika keadaan sulit, serta para mentor dan orang-orang di sekitarnya yang turut membuka jalan.
Ia tidak melupakan orang-orang yang pernah membantunya, termasuk mereka yang memberikan dukungan dalam bentuk sederhana. Bantuan berupa makanan, peralatan, kesempatan belajar, hingga kepercayaan untuk mengerjakan sebuah proyek menjadi bagian dari perjalanan yang membawanya sampai pada titik sekarang.
Ada pula salah satu kenangan sederhana dari abang tingkatnya, Bang Crisman Wise, Angkatan XX. Pada suatu kesempatan, Crisman memberikan uang sebesar satu dolar kepada Lien, dengan catatan Lien harus janji berusaha belajar terus sampai musiknya membawanya ke negara dari mana mata uang itu berasal. Nominalnya mungkin tidak besar, tetapi bagi Lien, pemberian tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar nilai uangnya.
Ia memegang janji itu dalam dirinya. Suatu hari nanti, ketika sudah berhasil mencapai impiannya dan uang satu dolar itu berada di tempat yang tepat untuk digunakan, ia ingin kembali mengabarkan kepada Crisman bahwa dirinya telah berhasil sampai pada titik yang dahulu ia cita-citakan.
Kisah satu dolar itu menjadi pengingat bahwa dukungan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Terkadang, sebuah pemberian sederhana dan kepercayaan dari seseorang dapat menjadi sumber kekuatan untuk terus melangkah, terutama ketika seseorang sedang berada dalam masa yang tidak mudah.
“Ada satu orang namanya Imanuel Simarmata. Cucu asuhku sekaligus orang yang aku paling enak main musik sampe saat ini adalah bareng beliau. Dia memberi sangat banyak warna dalam permusikan di hidupku. Bang Peter Simarmata menginspirasiku, Almarhum Bang Alonso yang membangkitkanku dalam permusikan, bang Crisman Wise yang memberikanku tekad, dan seluruh keluarga besar Etenier dan paryasop,terutama yang di Bandung, aku juga mengungkapkan terima kasih, dengan semua ketidakjelasan, dan jatuh bangun yang kualami.”
Pengalaman yang pernah ia lalui membuatnya memahami bahwa seseorang tidak selalu dapat mencapai sesuatu hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri. Ada banyak orang yang mungkin hadir dalam waktu singkat, tetapi memberikan pengaruh besar terhadap keputusan dan langkah yang diambil.
Karena itu, ia merasa penting untuk tidak melupakan orang-orang yang pernah membantu, sekalipun bantuan tersebut mungkin terlihat kecil bagi orang lain.
Dari perjalanan panjang yang telah dilaluinya, Lien memiliki satu pesan sederhana bagi siapa pun yang sedang berusaha menemukan jalan hidupnya. Menurutnya, ketika seseorang merasa memiliki minat terhadap sesuatu, jangan ragu untuk mengembangkannya dengan sungguh-sungguh.
“Di mana pun kamu merasa kamu punya minat, maka all out aja. Keluarkan semuanya. Apa pun hal baik yang kamu akan lakukan, all out.”
Pesan tersebut bukan berarti setiap orang harus langsung mengetahui tujuan akhirnya. Perjalanan Lien sendiri memperlihatkan bahwa jalan hidup tidak selalu dapat diprediksi sejak awal. Ia memulai ketertarikannya terhadap musik dari pengalaman sederhana, belajar dengan peralatan seadanya, dan mengembangkan kemampuan secara bertahap. Tidak ada jaminan bahwa semua proses tersebut akan membawanya pada pekerjaan seperti yang ia jalani sekarang.
Namun, ia memilih untuk terus mencoba.
Ia juga mengingatkan pentingnya tetap menjadi pribadi yang baik, apa pun keadaan yang sedang dihadapi. Dalam perjalanannya, ia pernah menerima bantuan dari orang-orang yang mungkin tidak pernah membayangkan bahwa kebaikan sederhana mereka akan begitu berarti bagi orang lain.
“Apapun yang terjadi tetaplah jadi orang baik. Dan jangan lupa teman yang menolong kamu.”
Kisah Lien Jacky Sitorus menjadi pengingat bahwa perjalanan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, semuanya berawal dari ketertarikan sederhana, keberanian untuk mencoba, dan kemauan untuk terus belajar meskipun fasilitas yang tersedia masih terbatas.
Dari paralon yang diubah menjadi seruling, laptop lama yang digunakan untuk belajar produksi musik, uang satu dolar yang menjadi pengingat sebuah impian, hingga LJ Studio yang mulai menerima proyek pada 2023 hingga saat ini, perjalanan Lien menunjukkan bahwa keterbatasan tidak harus menjadi akhir dari sebuah kemungkinan.
Sebab, pada akhirnya, bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang dapat melangkah, tetapi juga tentang bagaimana ia menggunakan kesempatan yang dimiliki, siapa saja yang ia bawa dalam perjalanan tersebut, dan apakah ia tetap mengingat orang-orang yang pernah membantunya sampai di titik sekarang.
Kisah hidup Bang Lien Jacky menjadi salah satu hal yang paling inspiratif sekaligus menggelitik yang pernah penulis lakukan selama melakukan proses menulis semasa 23 tahun hidupnya. Berawal dari keinginan penulis untuk mengangkat kisah inspiratif tokoh alumni yasop di bidang seni musik, penulis kemudian memutuskan untuk menghubungi Bang Lien Jacky sebagai tokoh alumni yang berhasil menempuh perjalanan di bidang seni dan musik. Ketika penulis menghubungi sang narasumber, respon pertama yang diberikan oleh bang Lien adalah
“Udah kehitung berhasil kah ini ya dek?”
Ungkapan ini kemudian saya tanyakan di akhir wawancara kepada bang Jacky, “emang gimana abang mendefenisikan kesuksesan bang?”
Ada jeda hening yang diberikan oleh bang Lien, sebelum kemudian menjawab
“Sukses yang aku maksud sekarang, adalah aku udah bisa berguna bagi orang lain,tanpa harus merasa kesusahan dalam melakukannya”
Setiap orang memiliki defenisi yang berbeda beda tentang arti dari sebuah keberhasilan, sama halnya dengan kesuksesan. Yasop dan “standar” kesuksesannya, orang batak dengan defenisi membanggakannya. Seperti yang selalu saya ingat setiap kali Alm. Oppung TB memberikan wejangan. “Alumni kita luar biasa suksesnya, ada alumni yang sudah kerja di pemerintahan, PNS, kementerian, lulus akpol dan akmil, jadi dokter, lulus stan, bekerja di gedung gedung tinggi, jadi dosen, guru dan akademisi, tersebar di segala penjuru dunia.”
Namun bagiku sendiri, parameter keberhasilan ataupun kesuksesan tidak hanya sekadar menjadi orang besar atau di lingkungan yang besar. Tidak sedikit teman saya yang punya passion di bidang melukis, di bidang musik atau menjadi pembuat konten/videografer. Dan banyak pula dari mereka yang meninggalkan dan mengubur impian itu, beralih menjadi pekerja korporat, dan berkuliah di jurusan lainnya yang sebenarnya tidak diminati namun menjadi “ideal” di mata among inong maupun keluarga dan tetangga.
Bagi penulis, sukses juga bisa datang ketika seseorang bisa menjadi diri sendiri, ketika seseorang bisa menjadi versi yang lebih baik dari kemarin kemarin. Tidak selalu lebih baik, tapi tetap bertahan meskipun jalan banyak lubang. Ketika seseorang tanpa disadari tetap menjadi diri sendiri dengan versi terbaik yang dia yakini. Ketika seseorang sendiri tanpa disadari berhasil memberikan semangat dan alasan untuk menyemangati orang lain. Tidak harus oleh orang random yang bahkan tidak kamu ketahui namanya, tapi oleh orang tua, saudara, kakak abang, teman, istri/suami maupun anak.
Harapannya, dengan adanya cerita dari Bang Lien Jacky, para pembaca dapat mengingat kembali proses perjalanannya masing-masing untuk sampai pada posisi sekarang, dimanapun kalian semua berada. Jangan lupa untuk mensyukuri proses saat ini, setiap proses yang ada diambil dari setiap keputusan yang dipilih. Meskipun keputusan itu mendapatkan dukungan maupun penolakan, selama akhirnya dipertanggungjawabkan, mengapa tidak?
Penulis: Lampita Ulibasa Pangaribuan (XXIX – Ingenium)
Narasumber: Lien Jacky Sitorus (XXIII – Etenier)